Teknologi dan Kesenjangan
Pinggiran kota Bogor. Daerah yang cukup asri. Buktinya, walau saat itu siang bolong, namun lahan-lahan yang mayoritas disesaki oleh pohon dan tanaman, membuat panas menjadi kurang garang. Peluh jadi malas keluar, keburu didesak angin yang datang menabrak dari arah berlawanan. Batang-batang bambupun terhuyung-huyung ditiupnya, hingga mengeluarkan bunyi gemeretek bersaut-sautan, seperti ada ratusan pintu reot yang dibuka pelan-pelan. Ah .. sebuah simpony yang menentramkan.
Saya – bersama dua orang teman, saat itu sedang survey sebuah lokasi yang katanya akan dijadikan rumah singgah buat anak-anak kampung. Tentu saja, lokasi macam ini menjadi seperti surga buat saya setelah pengap mengurung kami selama perjalanan naik angkot dari Depok.
Tiba-tiba, ponsel teman saya berdering memanggil.
Dua orang bocah telanjang dada hitam legam yang berpapasan dengan kami, terperangah menyajikan ekspresi bingung, mirip seperti ekspresi saya ketika baru pertama kali menonton video porno.
“Heh … heh! Telepon te aya kabelna!
Kami semua memaku pandang pada kedua bocah itu, termasuk teman saya yang sedang menjawab bunyi ponsel.
“Bener. Te aya kabelnaâ€, kali ini si bocah setengah berbisik kepada temannya.
Saya memang tidak begitu mengerti bahasa Sunda. Tapi mestinya maksud bocah itu tidak jauh-jauh dari telepon dan kabel.
“Kabelna?â€, saya tiba-tiba saja menjadi sok akrab dengan mereka. “Itu kabelna!â€, tunjuk saya pada sebuah kabel listrik yang melintang di atas udara.
Si bocah bolak-balik bermain pandang, tatapannya meloncat-loncat dari kabel di udara dengan ponsel di dalam genggaman teman saya. Wajahnya tertekuk, seakan baru disodorkan soal matematika tingkat tinggi. Saya tebak, dia sedang berusaha mati-matian mencari hubungan logis antara kabel itu dengan ponsel yang menempel di kuping. Bagaimana mungkin?
Saya geli melihatnya. Bahkan teman saya yang satu malah sudah terjongkok-jongkok sembari memegang perut yang sakit karena pecahan tawa. Cuma, benak saya tetap saja nggak bisa terima, kok bisa-bisanya mereka tidak pernah melihat barang bapuk macam hp?
—————————————————
Kisah ini muncul lagi dalam ingatan saya setelah membaca tulisan Mas Pujiono yang berjudul Kabel-kabel itu.


Comment by Yenny
Dan terberkatilah orang seperti kamu yang bakalan membuka wawasan, menguak kesenjangan tekonologi kepada anak-anak seperti mereka. Mengejar segala ketinggalan …..
*kok gw keik orang demam ya?*
Comment by Hedi
jangankan anak-anak, kita yg dewasa aja sering gaptek hehehe
tapi bener juga ya, kenapa tu anak ga pernah ngeliat hp
apa mrk sudah sibuk dg dunianya sendiri, jadi spt hidup dlm tempurung.
Comment by medon
bogornya di sebelah mana? deketan nih
oh iya mungkin tulisan yang tepat untuk obrolan kedua bocah itu adalah Telepon teu aya kabelna!
ada tambahan huruf u di belakngnya
Comment by amey
Jadi inget iklan tentang internet masuk desa itu..persis kek yang lu cerita ini :((
Pernah liat gak?
Comment by zam
kalo saya sih baru heran kalo keadaannya seperti ini:
“telepon canggih teu aya yang punya!”
wahahaah
Comment by fitri
baru tau kalau di daerah bogor ada yang belum pernah liat hape sama sekali…
Comment by johan
mas medon, leuweliang mas …. masalah huruf kurang ya harap dimaklumken … hehe .. soalna si bocah itu ngucapkannya nggak pakai sistem spelling .. heheh
Comment by yoyok
aah..anak2 selalu membuat saya terkagum-kagum
seorang nabi (elia ? - kalo gak salah, lupa) pernah bilang,
hanya orang yang berhati seperti anak kecil
yang boleh masuk surga
ataukah kekaguman saya akan anak itu dikarenakan
didalam hati saya “anak itu” sudah
semakin hilang….?
Comment by Putri Duyung
Lah elo mah jalan-jalan mulu… dari Surabaya ke Tanggerang, dari Tanggerang ke Bali, tapi blog elo teteup aja masih di pedalaman Bogor :((
Comment by yati
ya ampuuunn….kok masih ada ya…di bogor pula, ga jauh dari Jakarta, pusat peradaban yang tak beradab. kalo di sini, di Kalimantan, tau nama alat yg dipake berhalo-halo mungkin nggak, ya wajar. tapi rasanya orang pedalaman pun…. ah, ga taulah.
bocah itu…seperti ingin mendekapnya…:( maap…
Comment by dewi
Walah, Bogor mana tuh Jo? Parah euy.. xixi..
Comment by Qky
interpretasi saya… dalam pikiran itu anak, “oon deh lu, itu, kan kabel listrik… itu, hape, telpon teu aya kabelna!”
Comment by restituta
main internet dosa gak, pak haji? :p
melihat yang seprti ini, kita harus sedih, atau kagum dengan keluguan mereka ya?
*saya mengandaikan orangtua mereka pun sama seperti mereka*
Comment by benisuryadi
mm, saya mencoba untuk memahami kebingungan yang terjadi dengan mengingat ingat kembali saat pertama kali menonton video porno…
mm, susah mas..waktu pertama nonton saya malah pingsan…hehehe=p
Comment by vendy
masalah kebiasaan
Comment by Eep
walah-walah….,
bogor gitu loh…
Comment by Eep
mas johan…, ni kayaknya ukuran box komentnya terlalu lebar…, jadi koemntarnya seaktu kita nulis beleber ke pinggir…, coba di resize lagi…
tks
Comment by iks
he he..
waktu masih kecil juga saya liat telpon nir kabel mikirnya kabelnya kabel yang ada di tiang listrik
iya mirip iklannya telkomnet yang internet itu, padahal itu masih di bogor yah gimana yang di daerah timur dan terpencil , weleh.
Comment by ShOFa
waduhh,, anak2 itu polos yah tp mereka berpikiran kritis,,
btw saya suka loh k bogor suasananya nyaman aja hehehe,,
Comment by aribowo
masa seeh masih ada yang lum tau sama barang yang namanya ponsel
Comment by merahitam
Ah, jangankan Bogor, Mas, yang berjarak beberapa kilometer dari Jakarta. Wong beberapa orang yang sempat ku temui, berdomisili di Jakarta pula, juga masih terbengong-bengong lihat HP.
Btw, ini harusnya jadi PR bersama untuk mengenalkan teknologi, macam internet, ke lingkungan sekitar. Jadi gimana kabarnya dengan program internet masuk sekolah ya? Bisa cerita mas?