Seandainya Tibo cs Bukan Katolik

Maaf kalau saya nakal. Saya berandai-andai. Seandainya Tibo cs - terpidana mati kasus Poso - bukanlah seorang katolik, apakah Konfrensi Wali Gereja Indonesia (KWI) - sebagai lembaga tertinggi Gereja Katolik di Indonesia - tetap akan mengeluarkan surat tentang hukuman mati kepada Presiden SBY? Apakah SBY tetap akan menerima telegram dari Paus mengenai hal ini? Apakah gelombang aksi demonstrasi dari kalangan rohaniwan dan pemuka agama - yang menuntut penundaan eksekusi itu - tetap akan mengalir?

Saya sadar, beberapa kalangan rohaniwan - mungkin juga hierarki gereja katolik - merasa serba salah awalnya untuk memberikan statement-statement itu. Mereka takut dicap partisan, karena merasa seagama dengan korban. Tapi di sisi lain, ada desakan hati nurani untuk menyuarakan kebenaran yang jika dikalkulasi dengan “cap partisan” tentu saja jauh lebih penting dan luhur.

Sukur! Coba kalau para rohaniwan itu konsisten meneriakan keadilan dan kebenaran bagi siapa saja sejak dulu, khan perasaan tidak enak itu tidak akan mengganjel!

Kalau mau mendengar saran orang kecil seperti saya : berkacalah dari kasus Tibo cs ini. Janganlah hanya ketika seseorang dari kalangan sendiri terkena musibah, kita baru seperti kebakaran jenggot. Lihatlah keadilan sebagai keadilan. Kebenaran sebagai kebenaran, tanpa pernah membedakan individu ini beragama ini atau bersuku itu.

Ah, sebenarnya saya ini tolol. Mengkritik orang-orang yang mungkin kelak bisa membantu saya. Saya - sebagai katolik - semestinya bisa hidup lebih tenang. Toh seandainya kasus serupa - atau katakanlah lebih ringan - menimpa saya, saya khan nggak perlu kuatir. Enak khan masih ada KWI dan Bapak Paus yang mau repot-repot bela-belain saya mati-matian.

Jadi, mau coba mengeksekusi mati saya? Nggak mungkin bisa, karena saya - sebagai katolik - punya bekap yang canggih!

——————-
NB : tulisan ini sama sekali tidak ingin memasuki pro-kontra mengenai harus atau tidaknya sebuah eksekusi mati, terutama dalam kasus Tibo cs.



46 Comments »

  1. Comment by Hedi

    Seandainya Tibo cs bukan pelaku sebenarnya, ingin tahu juga bagaimana reaksi banyak orang :D

  2. Comment by Yenny

    makanya, tulis di jidat lo gede-gede kalo lo Katolik. Jadi lo bisa bebas melenggang mutilasi orang tanpa tatut di hukum mati :))

  3. Comment by Hen

    Aku yakin pasti tidak ada reaksi sama sekali. So … maafkan aku kalau aku mengatakan rasa “diskriminasi” ternyata sangat besar sekali di Republik ini hehehe

  4. Comment by yati

    ahh…kasus ini…gw ga tau mo komentar apa (ato tepatnya takut kejebak persoalan sensitif dan malah memperburuk keadaan)…
    akhirnya dijadiin lelucon aja
    tapi, usulan temen gw tentang tibo dkk (bisa dibaca di http://ervan-jakarta.blogspot.com) mungkin bisa dicoba, hehehe….

    soal buku…hehehe…mbukukan blog aja ga PD apalgi mbukukan omongan gw di radio… :d

  5. Comment by agusset

    manusiawi Jo! kalau gak ada semangat partisan, nggak mungkin juga ada banyak organisasi keagamaan di dunia ini…

    yang penting kan kita menganut: hukum ya hukum, divonis mati, ya laksanain. mau organisasi2 atau tokoh agama bilang bla-bla-bla, biarin aja, itu hak mereka di negara yg menganut kebebasan berpendapat…

    kalau pihak pelaksana keputusan hukum alias pemerintah itu goyah akibat ada campur tangan para partisan, kita kan jadi bisa menilai sendiri sejauh mana kredibilitas mereka sebagai penyelenggara negara atau pelaksana hukum.

    kalau sudah begitu, jangan pusing dan heran juga kalau rakyat semakin rasis, toh teladannya adalah pemerintah dan organisasi partisan itu sendiri…

  6. Comment by johan

    #mas agus : nggak ada yg salah dengan organisasi keagamaan. Tersatukan oleh kesamaan, namun - menurut saya - aktualisasinya tetap harus keluar, bagi kalangan di luar kelompoknya.

    Memang manusiawi, cuma - lagi menurut saya - peran agama mestinya lebih dari itu, melampaui terminologi manusiawi, hypermanusiawi, transenden.

    Kalau agama hanya sebatas menyuarakan hal yang “manusiawi”, rasa-rasanya ia telah kehilangan fungsinya.

    Menolong diri sendiri sudah jamak. Tapi menolong orang lain baru bernilai positif. :)

  7. Comment by agusset

    # johan:

    yang melaksanakan dan menjalankan agama kan manusia, jadi ya manusiawi kalau mereka cenderung lebih sering membela diri sendiri atau kelompoknya daripada membela semua yang benar secara fair.

    semua konsep buatan manusia pun punya kecenderungan yang sama, cenderung membela negara, kelompok atau rasnya sendiri dan mengabaikan negara, kelompok atau ras lain jika bertentangan dengan kepentingan mereka meskipun benar.

    lagi-lagi, semua terjadi karena manusia memang punya kecenderungan seperti itu. akibatnya, semua aturan yang ada baik itu agama maupun aturan buatan manusia akan cenderung diinterpretasikan sesuai dengan kepentingan mereka, terutama jika sudah bersinggungan dengan kelompok lain yang berseberangan paham atau berkonflik dengan mereka…

    itulah salah satu tantangan terbesar menjadi manusia…

  8. Comment by Aji

    Aww aww, sudah mencapai transendensi si Jo :)
    Ah ya… memang, sebagian besar dari kita dididik untuk melindungi apa yang kita yakini sebuah pembelaan terhadap agama, keluarga, dan lain-lain.

    Mengapa jika seorang anak diseret ke pengadilan, orangtuanya yang sibuk dan panik? berbeda jika itu anak orang lain
    Mengapa jika seorang warga AS diculik dan disandera, presidennya yang mengatakan ini adalah penghinaan sebuah bangsa. Berbeda jika itu warga negara lain
    Mengapa?
    Karena… Selalu ada fanatisme terhadap apa yang kita bela berhubungan erat dengan dirinya, kesamaan latar belakangnya, warna kulitnya, agamanya. Dimana transendensi adalah utopia, yang walaupun mulia, tetapi suaranya tak ada dalam kitab-kitab agama.

    siapa yang salah? manusia?
    coba pikir lagi… :)

  9. Comment by irwan

    tinggal kita sendiri yang mau menilai seperti apa, dan bayangkanlah kalau hal itu terjadi pada kita…
    *halah… emoh mikir tekan kono…* :D

  10. Comment by zam

    kalo menurut saya nih mas Jo..
    ada baiknya kita kudu mengesampingkan kepentingan kita, membela teman atau saudara kita, apabila memang bersalah.. menyuarakan kebenaran rasanya memang susah ya mas Jo.. karena kita cenderung membela diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. dan kecenderungan ini sering membuat kita menutup mata terhadap kebenaran..

    ini yang sulit. menyuarakan kebenaran tanpa didomplengi kepentingan tertentu..

  11. Comment by catur

    saya tetap berpegang pada kebenaran dan keadilan.. apabila itu memang benar-benar salah maka tidak adanya tibo dan Imam Samudra.. sama-sama dihukum mati toh…
    intinya jangan sampe menyalahkan yang tidak salah..dan membenarkan yang tidak benar… ada mekanisme pengadilan yang memverifikasi itu..

    unless, ada sistem lain di luar sistem pengadilan yang mengintervensi.. seperti kasus abu bakar ba’asyir juga dimana Amerika Serikat merasa perlu untuk mengintervensi kasus pemalsuan KTP beliau…. coba kalo dia bukan haji, pasti gak papa kalo malsuin KTP…

    saya berbicara kepentingan,… bukan didasarkan agama atau kelompok..

    karena ada kepentingan-kepentingan yang bisa menembus batas agama.. atau memang sebenarnya ada motif primordial juga pada akhirnya…

    hmmmm sok tau lo tuy……. pisss….

  12. Comment by zsa zsa

    aku sih ga terlalu ngikutin berita tabo and kasus poso karena dari dulu aku males denger n males baca hal2 yang begituan karena menurutku, sudah sejak lama “KEADILAN” di indonesia jadi bahan permainan. tidak jelas lagi mana yang benar dan mana yang salah. hanya satu hukum yang berlaku - siapa punya uang, dia akan menang. sedihnya itu .. :(

  13. Comment by riza

    seandainya tibo bukan katolik
    seandainya abu bakar bukan muslim
    seandainya johan bukan katolik
    seandainya riza bukan muslim…
    seandainya….

  14. Comment by irf

    wah, gak tau mo komentar apa. lha ra ngikuti beritane, je !!! males ….

    weits, ada penampakan di sudut kiri atas rupanya

  15. Comment by Emmy

    Sering gue mikir , cara orangtua ( terutama di Indonesia ) mendidik
    anak2nya , harus saling membela saudaranya, walaupun mungkin yang dilakukan oleh salah satu saudaranya adalah salah, tapi saudaranya
    yang lain harus bela itu saudara.
    Jadi dari kecil , udah salah kaprah. Sehingga begitu terjun dalam masya-
    rakat, kita menjadi ” diskriminasi “.

  16. Comment by merahitam

    Adanya kesamaan latar belakang, ide, keyakinan, kerapkali membuat kita dekat dan bersimpati. merasa ikut mengalami dan terluka. Meskipun secara fisik, mungkin kita tidak saling berdekatan.

    Beberapa hari lalu mengantar tetangga menjalani proses pemeriksaan di kejaksaan. Sang jaksa yang lahir dan besar di Jakarta, merasa dirinya sebagai orang Betawi, menenangkan tetanggaku seraya berbisik.

    “Bapak orang Betawi kan? Tenang aja, saya pasti akan bantu. Hukuman bapak bakal lebih ringan. Paling cuma 1-2 bulan.”

    Padahal hukuman yang seharusnya dijalani tetanggaku lebih dari 8 bulan. See…

    Btw, baru sekarang lihat penampakan dirimu yang sebenarnya. Hehehehe…

  17. Comment by Yenny

    gw baru masuk lagi, kok ada poto lo? kok lo ganteng sih, Jo??? ahhhhh tidakkkkk! :)

  18. Comment by johan

    irf, mbak dian n Yenny … ttg foto …

    ternyata kalo gw kasih tekstur kayak gitu emang jeleknya kurang banyak .. :p

  19. Comment by vendy

    huahahahaha :))
    untuk kasus macam ini, sering saya masih melemparkan ratusan pertanyaan yang diawali dengan “apa” dan “bagaimana”.

  20. Comment by Qky

    Andai kita semua saling memahami bahwa perbedaan (SARA) adalah buatan Tuhan sendiri…. Saya mulai dengan pertanyaan…Apakah kita sebelumnya pernah memesan kepada Tuhan… akan lahir dari rahim seorang perempuan Katholik berkulit putih, atau Kristen berkulit hitam dengan rambut gimbal, atau dari rahim seorang perempuan Atheis berkulit sawo matang atau dari seorang perempuan Muslim bercadar dlsb…??? tentu, tidak, bukan…!?!

    di Qur’an (maaf) termaktub…
    QS:49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

    makanya bagi saya adil adalah adil seadil-adilnya tanpa dipengaruhi unsur SARA

    Waduuh…kok, jadi serius gini, yak?!?

    btw, Negara kita negara hukum, biarkan hukum berjalan

  21. Comment by siwoer

    cieehhhhhhh…. skr di pojok kiri atas ada potonya Tibo cs toh? eh salah deng.. maksudna… johan wowor :P

  22. Comment by iks

    diskriminasi, memang susah sih diilangin. Semua orang punya kecenderungan untuk membela orang2 yg dia kenal atao punya kepentingan yang sama, walopun itu salah. Makanya jadi penegak keadilan itu tanggungjawabnya gede banget, kudu mengesampingkan kepentingannya dan melepas embel2 dia siapa dan latar belakangnya.
    Makanya kadang lucu juga sih denger berita, Imam samudra mo divonis hukuman mati orang pada adem ayem, giliran tibo heboh. Atau sebaliknya. tergantung back up yang mendukungnya gencar bersuara atau engga.
    Mbuh, kuncinya cuma di adil sih.

  23. Comment by benisuryadi

    saya juga punya bekap yang canggih
    yang di Atas =)

  24. Comment by maknyak

    hmm postingan berat nih hehe. apa kabar jo?

  25. Comment by argo

    org pada teriak2 masalah huk tibo cs, knp mslah amrozi mereka tdk teriak, apalagi aparatnya, di sini ada diskriminasi hukum, klu org ISLAM di bela matian2 , aku yakin ada skenario politik dlm kasus tibo cs
    mereka ingin tibo cepet2 di hukum mati spy upaya hukum tdk terbongkar aktornya.

  26. Comment by Eva

    kenapa amrozi, imam samudra ampe skrg blon diapa2in, padahal mereka khan sadis mennnnnnn

  27. Comment by jati

    Saat komentar ini ditulis Roh Tibo dkk, sudah diterima Allah Di Sorga, karena kalau mereka memang melakukan mereka pasti sudah bertobat, dan kalau memang mereka hanya dikorbankan. Kita lihat nanti di tahta pengadilan Allah …karena pengadilan Allah adalah SANGAT ADIL tidak seperti pengadilan dunia yang bisa direkayasa.

  28. Comment by restituta

    Berapa kali ya, saya baca ulang postingan ini, tetep bikin perut mules.
    Sekarang, agama gak hanya identik dengan Tuhan-nya, tapi juga lembaga yang mengatasnamakannya.

    Soal kekekeuhan lembaga hukum utk mengeksekusi mati Tibo Cs, saya nggak punya komentar. *tepatnya bingung untuk berkomentar*

    Tapi Jo, kamu liat kan, lembaga agama memang cenderung utk membela orang seagamanya. Liat dong, vonis hukuman mati utk para tersangka bom bali juga dipertimbangkan lagi atas dorongan lembaga agama juga. Makanya kamu bisa berlega hati kan punya bekap yg canggih :P

    Tiap baca atau nonton berita ttg kejahatan, saya juga sering mengutuk: ugh, hukum mati aja nih penjahatnya. Ya, siapa sih yg nggak mau dunia tenang dan damai? Kalau mau ada hukuman mati, pastikan lembaga hukum benar-benar adil. Jangan menghukum (mati) orang hanya sebagai kambing hitam.

    Keadilan & hati nurani, dua hal yang sulit utk dibuat sinkron.

    Bapak-bapak, ibu-ibu aparat penegak hukum dan kaum penjahat, mari kita ingat selalu: Tuhan kan nggak tidur.

    *Back to work, aaaahhhh*

  29. Comment by Marisa elsera

    gw nggak ngerti knp eksekusi tibo cs masih di undur2 terus. kenapa? yang gw denger dr TV kalau kasus tibo cs sudah di sidang lebih dari 15 kali. dan selama lima belas kali itu, tibo cs dianggap tidak bersalah. bener atau nggak nya gw juga nggak tahu pasti. yang jelas gw dapat berita nya dari TV. ketika tibo cs di vonis mati, gw bener2 kaget. sebenar nya ada masalah apa di pengadilan kita ini? kalau memang mereka salah, buat apa diundur-undur lagi eksekusi nya? KWI dan paus anggap angin lalu saja. toh kalau tibo cs bukan katolik mereka juga nggak ambil pusing, iya kan? bung, ini negara kita jadi nggak butuh intervensi dari orang lain. gimana pak hakim????

  30. Comment by Jose

    KEADILAN TELAH MATI DI NEGARA INI.LIHAT IMAM SAMUDRA DAN TEMAN2 KEPARATNYA..SAMPAI SEKARANG TIDAK DIHUKUM MATI,MALAH DIBELA2IN SAMA JAKSA…TAPI BUAT TIBO CS MAUT TELAH DATANG.LIHAT LASKAR JIHAD YG DI AMBON GA ADA YG DIEKSEKUSI,PDHAL MEREKA ITU PEMBUNUH! INDONESIA SEDANG BERJALAN MENUJU PERPECAHAN SEPERTI YUGOSLAVIA DAN UNI SOVYET.BIAR AJA YG TINGGAL NANTI REPUBLIK JAWA KEPARAT!TANPA ADANYA PERSAMAAN HUKUM BUAT YG BERAGAMA SELAIN MUSLIM DI REPUBLIK INI,MAKA PEMERINTAH RI SEDANG MENANAM BOM WAKTU SEPARATISME DAN PERANG SAUDARA..

  31. Comment by Chris

    terlepas dari agama dan tindakan kriminal yang dibuat orang, rasanya serem sekali peristiwa yang menginginkan orang lain untuk dibunuh, apapun alasannya. Manusia kok jadi kelihatan seperti ‘haus darah’… hukuman mati cuma membuat kita jadi sama saja dengan si terhukum mati… sama-sama haus darah… kita bukan Tuhan yang berhak memutuskan kapan orang lain harus mati…

  32. Comment by Heng's

    @Chris: Sebenarnya bukan haus darah, tetapi mungkin karena didikan yang rusak dan tidak benar. Sebagai contoh banyak tayangan sinetron Indonesia yang menampilkan aksi kekerasan yg juga mempertontonkan cara-cara menyiksa orang lain. Jadi tak heran jika kejahatan sudah dianggap biasa. Pejabat tinggi saja atau pemerintah tidak dapat memberi teladan yang baik untuk rakyatnya.

    Rasanya gue sudah bosan denger yang namanya diskriminasi. Karena ini sudah jadi kegiatan sehari-hari di Indonesia. Kalo denger ada namanya keadilan yg seadil-adilnya dan itu bisa terjadi di Indonesia, itu baru LUAR BIASA.

  33. Comment by Me

    Hi, saya justru ingin mengandaikan begini: seadainya mereka justru tidak mendapat perhatian dr KWI dan Vatikan, bakalan sedih sekali bagi orang2 Katolik. Toh, selama ini kalangan minoritas - dlm hal agama - telah mendapat banyak masalah di Indonesia, di negaranya sendiri, didiskriminasi oleh mereka yg justru seharusnya menjadi keluarganya sendiri.

    Ah, seandainya masyarakat Indonesia dan dunia menaruh perhatian serius kepada masalah masyarakat dan orang Indonesia yg minoritas baik keturunan maupun asli-sli-sli… Seandainya tidak ada Tibo cs… Seandainya Paus tidak mau membantu…

  34. Comment by medon

    hihihi untuk saya bukan cs nya tibo ;)

  35. Comment by lelaki_kalem

    hukuman mati harus di hapus….cuma TUHAN yang berhak ambil nyawa orang,mau katolik mau islam ,mau kristen kek….cuma TUHAN yang punya hak..manusia GAK BERHAK !!!!!

  36. Comment by Me

    Hi lelaki kalem,

    ya, bisa saja dihapus, klo itu didukung oleh mayoritas. tp selama mayoritas masih mengharapkan kematian bagi orang lain, maka tak akan ada yg bisa diubah. keep on hoping… ato jika kmu ingin menjadi minoritas tapi mampu menundukkan si mayoritas utk mau berubah…

  37. Comment by gaby

    klo gue agak ga terima tentang tibo cs di hukum mati.
    Soalnya yang berhak mengambil nyawa dan memberikan nyawa itukan Tuhan.jadi ,yang berani nyabut nyawa seseorang ia itu berdosa.kalau pun ternyata tibo cs emang salah,itu urusan dia ma Tuhan. jadi pemerintah salah menghukum mati tibo cs,soalnya ia bakal kena dosa.

  38. Comment by johan

    untuk teman-teman yang berkomentar tg perlu nggaknya hukuman mati :

    saya juga nggak mendukung hukuman mati : bagi siapa saja, dengan latar belakang apa saja, bahkan dengan dasar kejahatan yang diperbuat oleh si pelaku. Secara filosifis : manusia masih bisa “kembali” …

    Hingga, kesempatan “untuk bertobat” mestinya bisa jadi solusi.

  39. Comment by trmadol

    Bonjour! What a super websight! Very refreshing to peruse from where we live in Paris (France). I eat frogs and drink wine. Woold like more informatons on this. Best regards! Mikael.

  40. Comment by ss

    Memang pemerintah indonesia sudah menjadi negara yang beradab, eh salah biadab lagi. he..he..he PUAS sekarang udah membungkam keadilan.
    SELAMAT ATAS KEBERHASILAN INI..

  41. Comment by lily

    saya mau balik tanya, seandainya TIBO CS itu bukan katolik, tp memeluk agama mayoritas di Indonesia? Apa yg terjadi?

  42. Comment by Sella Antesty

    Saya turut berduka cita,tapi saya emang gak tau,karena saya gak bener-bener menyaksikannya,kita selama ini cuma menyaksikannya di media kan?…entah mereka itu beneran terbukti bersalah sesuai tindakannya,atau cuma jadi korban dari ketidakadilan?kalau memang bersalah,ya mereka sudah dihukum.Tapi klo memang ga,suatu saat pasti terbukti kebenarannya,walaupun mungkin terlambat,tapi setidaknya nama bersihnya kembali.Terlepas dari semua itu,saya berdoa…semoga arwah mereka diterima disisi Allah Bapa.Karena sebenarnya,gak ada seorang pun yang tau selain Tuhan…..

  43. Comment by Santos

    Tibo cs…tiga umat Katholik sederhana, bahkan tidak cukup berpendidikan ditembak mati ! atau dikorbankan? Masuk dalam perangkap orang yang mengenal Kristus ! Dibujuk untuk meyerahkan diri oleh orang yang mewartakan kasih Kristus.Kasihan-sungguh kasihan.
    Pengadilan Pilatus jaman kini memutuskan tanpa menghadirkan kebenaran yang koheren.

  44. Comment by dik@

    YAng bisa nyabut nyawa orang itu cuma Tuhan….enak aja manusia mo nyabut nyawa orang!!!hukuman mati tu mustinya dihilangkan,coz itu sama aja menghina Tuhan sebagai pencipta alam semesta&isinya….HUKUMAN MATI DITIADAKAN!!

  45. Comment by sambodjo

    Di negara yang manghapus hukuman mati, angka kejahatan ternyata lebih tinggi dari negara yang menerapkan hukuman mati. Menghapus hukuman mati malah meningkatkan angka kejahatan. Takdir kematian seorang manusia memang Tuhan yg menentukan, tapi cara matinya bisa bermacam-macam, diantaranya Ya dihukum mati coy.

    Kalo orang2 pembuat kerusuhan dibiarkan merajalela, itu menyusahkan jutaan rakyat yang berperadaban baik.

    Apa pendapat anda atas matinya puluhan ustadz yang dibunuh dan dianiaya dengan tuduhan dibuat2?
    Banyak masyarakat di Poso yang menyaksikan gerombolan Tibo adalah pelakunya….

  46. Comment by ANAK DAYAK KALIMANTAN BARAT

    kalian tidak tau kami penganut katolik merasa didiskriminasi oleh kelompok mayoritas, kami hanya bisa pasrah sebagai kaum minoritas, ketidakadilan yang sering kami dapatkan, agama kami mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, agama kami tidak ada mengajarkan untuk memusuhi atau berperang YANG MENGATASNAMAKAN ALLAH.Pada akhir dunia nanti siapa yang akan menyelamatkan umat manusia kalau Tuhan kami YESUS KRISTUS

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

If you want to leave a feedback to this post or to some other user´s comment, simply fill out the form below.

(required)

(required)