Kasus IPDN : Pengidolaan Pada Penindas

Hari ini ribuan mahasiswa berteriak : Hapuskan Militerisasi di segala bidang … Singkirkan Kekerasan dalam bentuk apapun! Besoknya mereka tawuran dengan mahasiswa kampus lain, hingga belasan orang kepalanya bocor. Ya itulah Mahasiswa …. yang diistilahkan Ariel Heryanto sebagai Maha Sia(-sia).

Hari ini Mahasiswa (yah maaf ya .. mahasiswa lagi contohnya) mendeklarasikan Gerakan Anti Korupsi. Beberapa puluh tahun ke depan, si mahasiswa itu masuk penjara menyalahgunakan jabatannya untuk menggelapkan uang negara.

Hari ini seorang anak digampar bapaknya hingga tersungkur. Di masa yang akan datang si Anak akan berposisi sebagai Bapak yang tega membunuh anaknya sendiri karena masalah kecil.

Hari ini banyak penulis Blog yang mengkritik kebijakkan pemerintah yang merugikan rakyat. Di masa depan, ketika si penulis Blog mejadi Menteri IT (katakanlah demikian) ia membredel sejumlah blog yang berani mengkritiknya ….

Hari ini saya mengkritik praktek kekerasan melingkar (baik verbal, mental, fisik) yang kerap terjadi di masyarakat. Tapi mana tahu, besok-besok saya juga melakukan yang lebih parah!!

——————————
Inilah kekerasan membudaya … Seorang obyek penindasan, suatu saat akan berubah jabatan menjadi Penindas Baru, dengan korban yang baru … Dan begitulah seterusnya …

Bagi Priyadi - meninjau kasus penganiayaan di IPDN beberapa saat lalu - ini adalah Stockholm Syndrome :

Pada tahun 1973 di Stockholm, Swedia terjadi sebuah perampokan bank. Perampok sempat menyandera beberapa petugas bank selama enam hari. Setelah drama penyanderaan usai, ternyata para korban berubah menjadi bersimpati kepada orang-orang yang menyandera mereka. Lebih daripada itu, ternyata mereka membela orang-orang penyandera ini.

Tapi bagaimana penjelasan logisnya? Mengapa kok simpati itu bisa muncul?? Mengapa kok Mahasiswa bisa demikian ambigu : menolak kekerasan sambil bawa bom molotov?

Freire - tokoh pendidik dari Brazil - pernah mencoba mencari akarnya. Baginya, secara tidak sadar, dalam diri korban kerap menyimpan kekaguman pada para penindasnya sendiri. Kekaguman inilah yang akan terekstensialisasikan ketika menemukan wadah yang tepat : jabatan, wewenang, kekuatan (dalam kerangka ini termasuk juga kekuatan massa seperti demonstrasi)

Bagaimana memutusnya? Jadikan gerakan Anti Kekerasan sebagai sebuah NAFAS hidup! Anda akan mati jika tidak bernafas .. demikian juga dengan sikap menolak kekerasan. Gandhi telah memulainya. Suatu tindakan verbal (mengkritik doank kayak saya ini) akan terjebak pada verbalisme. Sedangkan melulu berupa aktivitas, akhirnya terjurumus pada aktivisme belaka.

Jadi mulai hari ini mari kita GANYANG mereka yang suka melakukan KEKERASAN .. loh?? :)



8 Comments »

  1. Comment by kenz

    halo mas, kayaknya bukan sindrom Stockholm.. yang terjadi di IPDN itu bukan bentuk simpati karena peristiwanya turun temurun dan terpelihara dengan baik. Sindrom Stockholm adalah simpati yang terbentuk dalam kasus penyanderaan dsb, yang terjadi di IPDN menurut saya adalah lingkaran setan dokrinasi waham-waham kebesaran yang pada akhirnya diwujudkan dalam perilaku kekerasan.
    Sindrom Kekerasan IPDN (IPDN Violence Syndrome)

  2. Comment by rusle

    Entah apa yang ada dipikiran para aparat pemerintah kita, mungkin betul kata Kolumnis Budhiarto Shambazy bahwa kita adalan “Insane Society“, masyarakat tak waras, yang pandai memutarbalikkan kebodohan menjadi kecerdasan, kekerasan menjadi disiplin, dan kebenaran menjadi sampah, sementara kebohongan menjadi barang manis….

    Luar biasa, para praja yang menjadi TERPIDANA pembunuhan Praja STPDN Wahyu Hidayat di tahun 2003 itu rupanya belum pernah me’nikmati’ eksekusi dari pengadilan, walau proses hukum mereka sudah selesai sejak 2005 lalu yang menghasilkan keputusan pengadilan Tinggi Bandung; masing2 (HANYA) 10 bulan penjara . Bahkan Mahkamah Agung sudah menolak kasasi yang mereka ajukan. Tapi BERUNTUNGLAH praja-praja pembunuh itu, status sosialnya membuat mereka diBOLEHKAN untuk menyelesaikan study di STPDN, walau dulu secara seremonial dinyatakan DIPECAT dari pendidikan. Bahkan mereka dijadikan PNS di lingkungan Pemerintahan Kota Bandung dan Sumedang. Mereka JAUH lebih BERUNTUNG dari maling ayam, maling motor, koruptor teri, dll yang langsung diBUI ketika mulai diadili, dan hukumannya bisa lebih dari SETAHUN!!.

    Empat dari terpidana itu; Bangun Robinson, Bennarekha Fibrianto, Oktaviano Santoso, dan hendi Setiadi menikmati indahnya menjadi PNS di Pemkot Bandung. Terus dua lainnya menjadi pegawai Pemda Sumedang. Enak nian, sudah membunuh praja, dipecat, diadili, divonis, tapi bisa kembali kuliah, diangkat jadi PNS dan melupakan ‘kejahatan’ nya di tahun 2003 ketika dengan arogannya membantai Wahyu Hidayat!

    Memang insitusi sombong itu perlu dibubarkan, senasib dengan rektornya yang dinon aktifkan. Beberapa pemerintah daerah seperti beberapa kabupaten di Prop Kaltim juga sudah bertekad untuk MENOLAK lulusan IPDN itu, terkait budaya kekerasan yang dipraktekkan. Daerah lain seperti Papua mengajukan untuk memiliki sistem dan sekolah IPDN sendiri. Jawa tengah sudah keberatan untuk membiayai IPDN.

    Seperti kata Tosari Wijaya, anggota DPR dari FPPP, IPDN hanya menghasilkan Drakula yang berseragam. Sadis.

    Thread detik.com beritanya:
    - Aneh, 8 penganiaya Wahyu Hidayat belum dieksekusi
    - 4 Penganiaya Praja Wahyu Hidayat bekerja di Pemkot Bandung
    - 2 Penganiaya Praja Wahyu Hidayat bekerja di Pemda Sumedang

  3. Comment by anthonysteven

    Waduh… Waduh… Betul itu, memang kekerasan, korupsi, dan (tambahan dari saya) pornografi sudah jadi lingkaran setan.

    Solusinya yah, keluar dari lingkaran! Jalani hidup hari ke sehari, miliki visi dan tindakan untuk menghentikan itu semua dengan cara yang sehat dan intelektual.

    Gak ada gunanya gerakan anti kekerasan dengan kekerasan. Mustahil sajalah hal itu. Gerakan anti pornografi dengan caci-maki, apa gunanya?

    Lebih baik pakai cara-cara yang intelektual dan baik, bersikap dewasa, dan bikin hype/budaya baru. Budaya hidup bersih, jujur, dan berdisiplin.

    Budaya untuk beriman dan menahan emosi, menggunakan akal sehat, dan memikirkan matang-matang segala tindakan.

  4. Comment by wadiyo

    Teruskan perjuanganmu nak di IPDN,
    nggak pa-pa dipukuli sampai mati, bahkan pak rektornya nyuruh disuntik formalin pada orang yang sudah tidak bernyawa.
    ntar setelah lulus engkau bisa jadi “lurah” preman dan tukang pukul.
    Pak Dosen,
    dan semua akademia IPDN
    Berbohonglah secara berjama’ah,
    pastinya aman.
    Tutupi kebusukan secara berjamaah,
    pastinya aman.
    Selamat datang para lulusan IPDN
    di dunia hitam.
    selamat bergabung,
    Ilmumu sangat bermanfaat di sini.

  5. Comment by vie ayu

    Kalo aku “NAJIS” nyekolahin anakku du IPDN. Dari kecil disayang2, dielus2, dimanja…masak gedhe2 dikasih ke “orang” yang doyan nabok, mukul, ma bunuh orang. Cuman orang gila yang mau anaknya digituin!!! Wis, gak usah jadi pegawai negeri..ra patheken kalo orang jawa bilang!!

  6. Comment by hoho

    ipdn bagus untuk kesehatan gigi dan gusi anda

  7. Comment by sumanto

    emang IPDN sekolahan pa merk pasta gigi??
    kekejaman itu memang ada sejak jaman dahulu.. sejak pertama kali dibuwat.. oleh sebab itu kekerasan itu akan selalu ada jika dalam hati orang yang akan atau sudah ada disana harus dibersihkan minimal dengan deterjen yang mengandung pemutih

  8. Comment by bajink_dhuro

    yach..ak dulu juga pernah sekolah di sono, IPDN kan Institut Preman Dalam Negeri….di sana mang asik, latiannya ga pake SANSAK tp langsung pake URANG, yah kalo urangnya uda PENYOK ganti urang laen lagi…hehehe…tp hasilnya ok loh…di kampungku banyak lulusannya IPDN, ada yg jadi Preman TERMINAL, tapi skrg BELIAU uda MATI kena dor sama police..

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

If you want to leave a feedback to this post or to some other user´s comment, simply fill out the form below.

(required)

(required)