Hukum Kesuksesan : Sukses Membunuh Hati!
Kisah keberhasilan Mark Inglis – pria Selandia Baru dengan dua kaki buatan – yang baru saja menaklukan Puncak Everest, memang meninggalkan pesan mendalam buat siapa saja yang memiliki impian-impian besar. Bahwa tidak ada sesuatu yang tak mungkin kita raih, selama kita mentotalitaskan diri untuk mewujudkannya. Dan memang keberhasilan Inglis tidak bisa dilepaskan dari profesinya sebagai seorang konsultan pengembangan diri sekaligus motivator handal! Bisa jadi Inglis adalah penggila Dr. Norman Vincent Peale yang telah membakar semangat banyak orang dengan bukunya : You Can If You Think You Can!!
Namun, ketika ada kabar tersiar, bahwa Inglis tak menggubris kesekaratan David Sharp – seorang pendaki lain – hingga kemudian ditemukan tewas pada Zona Kematian pendakian Everest, kitapun mulai tercenung. Sedemikian ngebetkah sebuah hasrat kesuksesan harus dipenuhi, walau untuk itu kita menampik nyawa orang lain?
Ya! Inglis pernah tiba pada sebuah persimpangan jalan. Yang sebuah adalah jalan untuk meretas mimpi besarnya, menaklukan Mount Everest. Dan yang lain adalah menyelamatkan nyawa David Sharp, sekaligus menyia-nyiakan 40 hari pendakiannya, mengubur impiannya, melupakan popularitas yang telah di depan mata. Dan Inglis memilih jalan yang pertama.
Dalam kualitas yang berbeda, mungkin kita pernah tiba pada persimpangan yang sama. Dan kita patut berbahagia karena masih memiliki hati. Sayangnya, banyak orang sudah tidak lagi mau menggunakannya.
———————————————————————
Hukum-hukum kesuksesan yang kini sering didengung - dengungkan dalam berbagai buku motivasi, buku-buku psikologi praktis, seminar-seminar motivasional, kerap tak mengikutsertakan pertimbangan moralitas dan etis. Otosugesti tentang kesuksesan menjadikan kita sebagai budak kejayaan, mesin narsisme, robot tanpa hati, yang terprogram hanya untuk mewujudkan impian.
Link :
Mark Inglis, Penyandang Cacat Pertama Taklukan Everest - Kompas
Di Balik Sukses Mark Inglis, Penyandang Cacat Kaki, Taklukkan Everest - Jawa Pos
Mark Inglis - His Life So Far


Comment by si kecil hati
Rohani tidak akan pernah bersatu dengan rohana. Ketika kita menjadi manusia yang berhati dan tau cara memakai hati dengan baik dan benar, kita menjadi manusia yang idiot di mata dunia, terzalimi dan status permanen sebagai korban.
semoga gw bisa ingat di setiap helaan nafas gw bahwa gw ini manusia yang mempunyai hati dan Tuhan telah berbaik hati memberikan gw sebuah hati untuk didonorkan kepada sesama
*dikomenolehseseorangyangseringmakanhati*
Comment by merahitam
Jadi ingat satu sesi dialog dengan salah seorang kawan.
“Kalau aku mau sukses, aku nggak boleh ngelibatin hati. Aku nggak perduli lagi dengan perasaan kalian maupun orang-orang di sekelilingku. Yang aku tahu, aku punya kesempatan dan aku harus raih itu! Kalau aku tetep mentingin perasaan kalian, aku nggak akan jadi apa-apa!”
Mungkin dia benar. Tangga yang hendak didakinya saja sudah cukup curam, jadi buat apa narik atau gandeng orang lain yang bikin beban makin berat dan kemungkinan untuk tergelincir makin besar. Dan semua ucapannya terbukti nyata. Ia terbilang cukup sukses.
Tapi terus terang, saya berdoa dalam hati, semoga saya tetap bisa sukses, tapi tidak dengan cara dan prinsipnya. *Amin*
Comment by merahitam
Tambahan, ning nggak penting. Commentnya berfungsi baik kok. Hihihi
Comment by Hedi
saya jadi inget pendaki everest yg juga berhasil ke puncak tapi tanpa pake tabung oksigen (sori lupa namanya). Dia baru sukses setelah ketiga kalinya karena yg pertama kakaknya mati di sana dan kedua terhalang badai.
Dia tadinya trauma tp kemudian sadar bahwa kakaknya yg sudah mati “ga mungkin hidup lagi” biar pun si adik ga naik gunung sekalipun…kalo ini termasuk kebulatan hati juga ya
Comment by johan
Yen, idiot di mata dunia tapi khan kaya di mata Tuhan … heheh (tumben ya gue lurus pikirannya )
Comment by siwoer
beh gimana rasanya ya jo, naek everest dhn tubuh yg gak sempurna, lah badang masih kompak aja udah kebayang cuapek tenan je?
Comment by benx
kemaren ada cerita juga dari teman, dia dipecat garaX2 ikut berbahagia atas keberhasilan seorang temannya…
menurut bos nya harusnya dia iri atas kemajuan temannya, jadilah dia dianggap tidak punya ambisi tuk maju, tidak cocok untuk perusahaan mereka…
dunia kok makin ngebingungin yak mas?
*mikir mpe ketiduran*
Comment by yoyok
yah dari dulu sampe sekarang emang masih trend main sikut-sikutan,
injek-injekan
ga nyikut ga gaul, walah3x
Comment by dewi
Cucian deh si Inglish. Hatinya harus dimasukin oven dulu tuh biar mencair.
Comment by a9u553t
versi sukses kan banyak mas… yang ditulis di atas cuman salah satunya aja :))
Comment by medon
Tuhan kan selalu memberi kelebihan diantara kekurangan manusia, so… santay aja lagee
Comment by Aji
Ambisi seharusnya tak mematikan hati, karena ketika ambisi menutup mata hati, ia akan menjadi zalim. Namun jika hati tanpa ambisi, ia menjadi lemah.
Tahu kapan untuk maju, dan tahu kapan berhenti
Seimbang…
Comment by bang pi'i
ha piye?? makanya saya gak manyanjung borobudur atau taj mahal!! segede apapun itu, berapa banyak darah yang tumpah? (komentarku nyambuk gak sih han?)
Comment by Suster Maria
Anakku tercinta, jangan lupa besok bertobat

Makanya elo bikin SB nape sih???? biar gw punya tempat buat teriak-teriak n mentungin elo
Comment by Polisi blogger
Anakku tercinta, jangan lupa update

Makanya elo bikin SB nape sih???? biar gw punya tempat buat teriak-teriak n mentungin elo
Pingback by EepInside.Com » Blog Archive » Mengesampingkan Hati Nurani Demi Sebuah Kesuksesan?
[...] Jika manusia sudah memiliki impian yang kuat, sebuah cita-cita, atau mungkin yang lebih ekstrim sebuah ambisi, semua rintangan sebesar dan sesulit apa pun pasti akan dilaluinya. Namun, terkadang, dalam mewujudkan cita-cita (atau lebih tepat disebut ambisi), manusia juga tidak jarang bisa menghalalkan segala cara dan melupakan nuraninya sendiri. Membaca posting di blog Johan Wowor, dan juga blog David John Owen, saya malah menjadi bergidik. Ambisi Mark Inglis ternyata sudah menutup hati nuraninya. [...]