Harapan, Kenyataan dan Bunuh Diri
“Satu-satunya tujuan hidup ini adalah
mempertahankan hidup tanpa tujuan apa-apa”
Baru diputusin pacar atau ditinggal selingkuh oleh pasangan? Lalu kamu kecewa dan berniat bunuh diri tapi tidak tahu caranya? Jangan khawatir! Kini di Jepang sudah diterbitkan buku Pedoman Bunuh Diri. Mau pakai obat? Atau memotong urat nadi yang aman? Atau mau mencoba pakai gas? Semuanya dibahas tuntas ! Buku ini memang membuat heboh masyarakat Jepang. Namun hal serupa sebenarnya juga telah ada di Belanda. Bahkan di sana, jika Anda membutuhkan bimbingan untuk bunuh diri, sudah ada beberapa kelompok yang siap membimbing. Beberapa di antaranya mengambil nama yang amat cocok : Exit, Right to Die dsb.
Hak untuk Mati
Menarik juga memang. Ketika mindset manusia masih menganggap bunuh diri adalah hal “terlarangâ€, Tsurumi – si pengarang – mau mensejajarkan keputusan bunuh diri dengan keputusan-keputusan lain dalam hidup ini. Ia ingin mempopulerkan bahwa hak untuk mati itu senilai dengan hak untuk hidup :
“Orang-orang selalu mempertanyakan mengapa mereka bunuh diri? tidak akan ada jawaban untuk ini. Sekarang mengapa kita tidak bertanya kenapa kita tidak boleh membunuh diri kita sendiri? Kenapa kita harus tetap hidup?,”
Begitulah paradigma modern mulai berkembang. Orang mulai mengotak-aktik kebebasan yang dimilikinya termasuk untuk memberontak terhadap kediriannya sendiri. Terhadap kehidupan yang entah oleh siapa disandingkan dengannya.
Kegelisahan manusia modern akan kebebasan menghantar mereka pada pertanyaan mencengangkan yang berimplikasi pada pengakhiran hidup : Atas dasar apa “saya†diberi kehidupan? Siapa yang meminta saya dihukum untuk selalu berjalan dalam kehidupan? Bukankah “saya†tidak pernah meminta untuk diberi hidup?
Komentar Tsurumi itu paralel dengan pidato kondang Dostoievski tentang bunuh diri :
“Dalam kedudukanku yang tak terbantahkan sebagai penuntut dan penjawab, sebagai hakin dan tertuduh, aku menghukum alam ini (=kehidupan), yang dengan kelancangan tanpa sungkan telah membuat aku lahir untuk menderita. Aku menghukumnya untuk hancur (mati) bersamakuâ€
Menghindari Bunuh Diri.
Berbagai kasus bunuh diri lahir pada sebuah tikungan : antara melanjutkan kehidupan dalam ketaktersampaian atau memilih mengakhiri penderitaan tersebut menuju kebabasan dalam kematian. Rasa kecewa dalam kehidupan adalah buah pikiran manusia yang merasa harapan-harapannya tak terwujud, atau merasa selalu hidup dalam keseakanan.
Ada jurang antara harapan yang ia buat sendiri dengan kenyataan yang terjadi. Dan tepat di tengah jurang itulah, orang memutuskan untuk melompat dalam bentuk bunuh diri.
Mungkinkah menjadi benar apa yang diungkapkan beberapa filsuf eksistensialis bahwa menghindari bunuh diri adalah dengan menjalani hidup tanpa harapan?
“Hidup dijalani dengan lebih baik bila tidak mempunyai artiâ€, ujar Albert Camus
Binatang bisa menggambarkan teori tersebut. Adakah binatang yang bunuh diri? Mengapa mereka tidak ada yang memilih untuk bunuh diri ? Karena mereka hidup tanpa arti, tanpa tujuan, tanpa harapan.
——————————–
Link :
Heboh Buku Panduan Bunuh Diri - Jawa Pos
License to Kill!


Comment by Hedi
tanpa bermaksud mendiskreditkan, buat saya, pelaku bunuh diri menunjukkan rasa pengecut, takut, tak percaya diri.
semua org punya masalah, bisa sama, bisa lebih berat atau ringan,
yg membedakan cuma cara mencari solusi dan itu pilihan
Comment by Yenny
Pantesan ampe hari ini gw belon bunuh diri, wong gw hidup tanpa punya harapan bisa merit ama lo sih…hiks, hidup gw dah gak ada arti, gak ada tujuan. Bunuh aja gw, Jo…
Comment by dewi
Apa sih artinya hidup ini? Emang gak ada. Dijalanin aja, mengalir seperti air. Bersyukur dan berserah. Berusaha dan berdoa. Istilah kerennya do the best n let God do the rest.
Comment by Kang Kombor
Aku punya pertanyaan yang sampai kini masih belum berjawab.
Ajal manusia itu kan Tuhan yang menentukan. Nah, untuk kasus bunuh diri aku melihat, kalau usaha bunuh diri itu berhasil, maka sudah seharusnya manusia memandang bahwa orang itu telah ditentukan ajalnya oleh Tuhan melalui bunuh diri. Yang belum sampai ajalnya kan pasti akan gagal usaha bunuh dirinya. Dus, seharusnya orang bunuh diri tidak berdosa.
Tapi kenyataannya, agama memandang bunuh diri sebagai perbuatan dosa. Sebuah pandangan yang bertentangan dengan kepercayaan bahwa ajal ditentukan oleh Tuhan.
Comment by aribowo
#hendi
gue juga setuju, hidup sebagai pecundang memang buruk tp akan lebih
buruk lagi kalo mati sebagai pecundang.
mungkin sedikit tips dari aku, di kala kita jatuh yang bisa membuat kita
bangkit lagi adalah impian, jadi kuatkan lah impian kita, jgn takut untuk
bermimpi
Comment by yoyok
hmmm
bagaimana dengan sebuah budaya (jaman dulu sih) yang menanggap
mati bunuh diri itu untuk mempertahankan kehormatan
budaya yang mengatakan lebih terhormat bunuh diri
daripada hidup menanggung malu
yang melakukannya adalah para kasta ksatria kebudayaan itu
tusuk , geser kiri, geser kanan begitu caranya gue baca di
suatu literatur
kebetulan, Tsurumi (sepertinya) tinggal di kebudayaan itu…
Comment by Aji
Let us live with what we believe
Let them die with what they believe…
Alas, it’s the beliefs that keep us alive!
and so on the other way around.
Comment by vendy
let it flow and everything will follow
Comment by Star
Bunuh diri? itu sih udah umum disini..hehehe
Comment by merahitam
Saya kok tetap menganggap bahwa bunuh diri cuma sebagai wujud keputusasaan. Meski mungkin para pelakunya sendiri akan membenarkan tindakan mereka. Sudah ndak ada jalan keluar; Semua jalan buntu; Atau tak bisa lagi berpikir; jadi pembenarannya. Itu sebabnya, menurut saya, pentingnya saling berbagi. Membagi keresahan, membagi keruntelan pikiran, dan membagi kisah. Karena dengan berbagi, pikiran menjadi lapang, hati menjadi lega, diri menjadi sadar bahwa masih banyak yang beban hidupnya jauh lebih berat. Maka pilihan untuk mengakhiri hidup, akan jauh dari angan-angan.
Comment by a9u553t
hahaha… kalau gw mah pingin hidup 1000 tahun lagi…
Comment by siwoer
kek hidup masih lebih enak jo! knapa? soalnya aye belum tau rasanya mati! daripada gambling dan setelah tau kalo mati itu gak enak terus mo balek hidup lagi ga bisa..makanya aye lebih milih idop! Idop is the best lah pokokna
Comment by zam
orang yg bunuh diri menganggap dirinya sudah ndak berart lagi..
jangan sampe dah.. na’udubillah!
Comment by cepris
Sumpeh, gw gak akan pernah membeli buku itu
Comment by gre
kita belum hidup kalo belum mati.
Comment by medon
woalahhh… koq ada ya?
Comment by ShOFa
walahh.. rugiii amaaaatttt..
mending cari pacar baru :p
mumpung msh muda heuheuheu..
Comment by restituta
hewan yg nggak punya arti dan tujuan hidup saja ngga pernah berpikir utk bunuh diri, lalu kenapa manusia yg punya tujuan (dan kalau mau bicara yg sedikit religius, diberi misi khusus oleh Si Pemberi jiwa), berani utk membuang jiwa itu?
Manusia tidak punya hak untuk membuang jiwanya, karena sejak awal jiwa itu bukan miliknya, tapi milik Tuhan. Cuma manusia yg khilaf yg membuang jiwanya. Dan di alam sana, dia pun pasti menyesali perbuatannya ;d
Comment by johan
#Mbak Restituta : permasalahannya, ada orang beranggapan bahwa dia tidak pernah minta diberi jiwa (”Saya telah dihukum menerima kehidupan”), jadi mereka merasa berhak pula menghukum balik .. dengan bunuh diri ..
Comment by dhant
kehidupan itu anugerah, takkan kembali maupun diberi kesempatan lagi..
meski se-sialnya hidup kita dan menumpuknya masalah, semua kita yg buat dan kita juga yg memperbaiki serta mengeluarkan hidup kita dari cengkraman itu, bukan orang lain…
Comment by Jeff
Gw mw aja sih bunuhdiri. Tp pingin tanpa rasa sakit… dan bisa bebas nentuin kapan waktunya. Biar bisa beres2 dulu gitu. Yaaah… perlu semacam Angel Dust-nya si Tsurumi itu loh. Ada info ga soal tuh obat.
Comment by MARCEL BABO
koh,ngapain pasrah diri ato mau cabut nyawa sendiri bodoh amat sih,aku mau hidup 1000 tahun lagi kawan,tolooooooooooooong jangan ambil keputusan yang amat bodohlah khususnya bagi sahabatku yang masi mudaaaaaaaaaaaaaaaa,
Comment by imago@azis
hee…biar ga mudah tergoda tuk bunuh diri jadilah Sisipus, biarpun menurut kita apa yang dilakukan adalah suatu hukuman/penderitaan tapi toh dia jalani tanpa kesah…
Comment by imago@azis
hee…biar ga mudah tergoda tuk bunuh diri jadilah Sisipus, biarpun menurut kita apa yang dilakukan adalah suatu hukuman/penderitaan tapi toh dia jalani tanpa kesah…
Comment by imago@azis
hee…biar ga mudah tergoda tuk bunuh diri jadilah Sisipus, biarpun menurut kita apa yang dilakukan adalah suatu hukuman/penderitaan tapi toh dia jalani tanpa kesah…
Comment by MiZterY
gw bener2 lagi kecewa banget, gw jadian ma cowo n udah tunangan bahkan kita hampir merrid, bahkan dy udah ambil segala2nya dalam hidup gw tp skrg dy tnggalin gw gitu aja…!! n saat ini cuma bunuh diri yang terlintas dikepala gw
Comment by ninique
yah saya setuju bgt dgn argument tsurumi ttg hidup vs mati tuh tadi..
“…aku menghukum alam ini (=kehidupan), yang dengan kelancangan tanpa sungkan telah membuat aku lahir untuk menderita. Aku menghukumnya untuk hancur (mati) bersamakuâ€
keren sekali kalimat itu..
tapi yang terbersit di otak saya abis baca kalimat tsb.. tsurumi skarang uda mati apa masi idup yah?
saya lg tertarik dgn artikel bertema bunuh diri krn akhir2 ini saya ngerasa ga tau mau cari apa lagi dlm hidup saya ni..
dan sedikit terjawab setelah saya baca kaliamt ini “Satu-satunya tujuan hidup ini adalah
mempertahankan hidup tanpa tujuan apa-apaâ€
walau belum bnr2 bikin saya puas dan berhenti mancari apa yang saya cari..
hehe..
Comment by johan
#ninique :
Itu bukan komentarnya Tsurumi, tapi keluar dari mulut Dostoievski.
Tsurumi sendiri kayakya masih hidup deh.
Permasalahan bunuh diri kerap terjadi karena ketaktersampaian kita ketika sedang mengejar apa yang kita cari (kalimat kamu terakhir) … ketidakpuasan yang terlestarikan .. ujungnya ….. hiks .. mokad!
Jangan bunuh diri ya …
Comment by Lina
saya sangat setuju dengan si pengarang, Tsurumi. Kita tak pernah minta dilahirkan. kita tak pernah tahu kenapa kita berada di dunia ini. kenapa kita dilahirkan untuk menderita? bukankah kita punya hak untuk mengakhiri hidup kita. bukankah kita tak pernah meminta untuk hidup di dunia. I absolutely agree!!
Bunuh diri? that’s ok. that is your life don’t you?
Comment by jajam
bunuh saja! jangan takut, jangan ragu! bunuh!.., di sana kebahagiaan menantimu!… bunuh semua! iri, dengki, hasut, fitnah, sombong, pelit, penakut, banyak angan2, malas, hura2, habisi! bakar! bakar!! bakar!!!… kekasihmu menanti di sana, di seberang jalan! dia menantimu…
Comment by Jeff
Udah 8 bulan (sejak 17 September 06) gue tunda niat gue bunuh diri. Nungguin info obat yang bisa bunuh diri tanpa rasa sakit (sambil tidur, gitu), ga ada juga. Ya udah, bunuh diri sekarang aja. Good bye everybody …!
Comment by tonyktomyk
So here’s Heather Locklear on the beach playing football, flirting, and generally acting young. And while her body is still in great shape, the signs of ageing are starting to show. Most notably in her face, where it seems she skipped her last Botox appointment (or maybe her face-lift could use a little tightening).
Sadly, she’s also showing signs of getting older in her arms and legs, where she’s starting to get a bit of that “old lady waddle.” In fact, the only place it looks as though she hasn’t aged is around her boobs, which are still remarkably perky (though the reason for that is probably an easy guess.)
If you need more help making you decision, check out these Heather Locklear bikini pictures, nude pussy and tits, as well as the rest of this set after the jump.
Comment by noni
idup atau mati itu pilihan.hak kita untuk idup atau untuk mati.
hanya kita yang tau pilihan apa yang terbaik. tapi mati itu pasti kalo kita idup. jadi mo mati secara natural atau mati bunuh diri ya sama saja. esensinya mati kan??