Filosofi Jarum Detik : Representasi Kaum Marginal
S E B E R A P A sering Anda melirik penunjuk waktu dalam sehari, entah itu arloji, ponsel, atau jam dinding di ruangan? Puluhan kali? Ratusan mungkin? Lalu, adakah Anda intens memperhatikan “kehadiran†jarum detik ? (atau digit detik pada jam-jam digital)?
Pukul 11 lewat 35 menit!
Begitulah cara kita membaca sebuah jam. Waktu seakan sudah lebih dari cukup hanya dengan ditandai dalam bentuk jam dan menit. Arah mata kita hanya akan tertuju kepada dua jarum lain: pendek dan panjang, tanpa peduli dimana letak si jarum detik!
Sebenarnya secara psikologis, dalam sebuah kesatuan benda-benda, mata akan lebih tertarik pada benda-benda bergerak dibanding dengan benda-benda yang relatif statis. Tapi mengapa tidak demikian ketika mata diberi tugas melihat jam ??
Lebih parah lagi, nyaris seluruh penunjuk waktu pabrikan sekarang telah menghilangkan si jarum detik dengan dua alasan : tidak sedap dipandang mata dan nggak trendy!
Kalaupun (Jarum) detik menjadi penting, lebih sering terjadi hanya pada acara seremonial. Di penghujung tahun misalnya, ketika jutaan pasang mata melakukan final countdown pergantian tahun.
Ya … kasihan ya jarum detik. Padahal bergeraknya jam adalah bergeraknya jarum detik. Pergerakan waktu adalah pergerakan si benda yang tidak dipedulikan kehadirannya itu.


Comment by amey
Justru jarum detik itu berguna banget buat ngukur detak jantung yak
Comment by Dewi
Ngabisin space klo pake detik. Di komen lo jg gak pake detik neh. hehe…
Comment by Dewi
Wakz.. gw post barusna jam 20:05 kok jd jam 1:03 yak? Waktu bagiaan mana tuh?
Comment by yoyok
Jika menunggu pacar…jarum detik pun terasa dekat dan bersahabat
bukan begitu bang jo ?
Comment by Hedi
bener Jo, detik itu berharga…kan ada iklannya”…saat setiap detik begitu berharga.”
Australia juga kalah dari Italia hanya dalam hitungan detik, hehehe
Comment by fitri
mungkin, seperti kata Andien, “detik itu tak bertepi” sehingga diberikanlah kepastian yang at least membuat manusia tahu disinilah tepian si detik. sehingga ketika kita melihat jam, kita membaca “tepi”nya, tapi kita tahu bahwa detik punya andil disana. btw, jam tanganku nggak ada jarumnya. tapi pake digit mulai dari jam, menit, sampai detiknya.
tetep aja, yang aku baca bagian depannya, tanpa mengurangi rasa hormat pada bagian belakangnya. hehehe.
Comment by a9u553t
Ngapain detik dihitung juga, kan bukan lagi balapan lari atau balapan F1 yang emang perlu ngitung sampe orde detik. Lagian ujung2nya detik kan jadi menit juga kan, jadi ya sama aja toh?
Comment by Yenny
si Detik cuman di inget pas saat krisis…judulnya dah …”Detik-detik berharga ….”
Comment by nug
kasihan deh lo, kerajinan merhatiin jarum detik … :p
Comment by siwoer
wah sayah kalo belih jam kudu yang ada detikannya, soale pernah punya yg cuman dua jarum doang, dan pas lagi mati, gak tau kalo jamnnya mati.. abesnya mo idup mo mati keknya sama aja
Comment by catur
jam saya ada detiknya. besar lagi.. saya juga suka lihat detik.. karena saya emang rada freakkkk soal waktu..
Comment by Aji
hubungannya dengan ekonomi mikro ya?
Comment by irf
iya ya, saya baru nyadar kalo jarang memperhatikan detik. padahal tanpa detik, gak ada menit dan jam.
yah, kenapa juga detik gak pernah protes kalo jarang diperhatiin. coba kalo dia protes sedikit, mungkin ada perhatian lebih besar yang tercurah padanya. :p
Comment by zam
begitulah nasib jarum detik.. sesuatu yg kecil dan penting justru kurang diperhatikan..
begitu juga dengan rakyat kecil!
Comment by Temen nge-blog
I Luv u, Jo…. :)))
Comment by wizze
detik donq yang paling dihargai proklamator, bukan menit.. ingatkan ada “detik-detik proklamasi” bukan menit-menit proklamasi………
Comment by ncomputing-penganti pc
kalau saya setiap menit,jam,detik,,selalu liat jam,,,,,:)