Kontemplasi Menjadi Aksi

Berikut adalah cerita yang pernah saya baca dari buku tulisan Anthony de Mello. De Mello adalah seorang spiritualis India yang mengaku belajar dari banyak guru : Muhammad, Yesus, Sang Budha, dsb. (Sayang, saya tidak bisa menemukan teks onlinenya di web ini, hingga cerita di bawah ini saya konstruksi seingatan saya saja)

Suatu ketika seorang pemuda yang dikenal amat saleh melintas pada sebuah hutan sehabis pulang dari misa di Gereja. Di tengah jalan, ia melihat seorang nenek-nenek tua terkapar lemas, kakinya berlumur darah.

Si pemuda segera lari sekencang-kencangnya menuju rumah. Ada “energi lebih” yang mendorongnya berlari demikian cepat, sehingga dalam waktu singkat ia sudah bersujud berdoa di dalam kamarnya dengan kusuk.

“Ya Tuhan, saya baru saja melihat seorang nenek yang amat menderita. Kiranya Engkau mau menolong penderitaannya”

Sehabis berdoa, ia tertidur. Dan dalam tidur itu, Tuhan datang menghampiri mimpinya sambil berkata :

“Hei pemuda, buat apa kau berdoa memohon Aku menolong nenek itu ? Bukankah Aku sudah mengutus kamu ke tengah hutan itu untuk menolongnya ? Mengapa kau malah berdoa lagi kepadaKu ?”



3 Comments »

  1. Comment by a9u553t

    hahaha… lucu ceritanya…

    Dalam Islam kita biasa menyebut manusia sebagai khalifah, wakil Allah di muka bumi ini. Berbuat baik, adil, pengasih, penyayang, tidak merusak bumi ini, dll. adalah tugas manusia sebagai khalifah. Orang suka ingat dengan kata “khalifah” ini, tetapi lupa atau kurang paham dengan bagaimana cara mempraktekannya, sama seperti cerita di atas…

  2. Comment by Yenny

    Jo, buku Anthony de Mello itu buku wajib buat gw… doa sang katak, burung berkicau, keyennnnnn. Ngebaca buku beliau, suka nohok gw yang sering kebanyakan buka mulut lebar-lebar sok berfilosofi tanpa perbuatan… sayang beliau dah almarhum :(

  3. Comment by merahitam

    Menyambung tulisan Mas a9u553t, di Islam juga dikenal konsep rahmatan lil alamin. Bermanfaat bagi alam (dunia). Artinya ucapan, tingkah laku, perbuatan harus bermanfaat bagi pihak lain. Skalanya tak harus besar. Tersenyum dan membuat orang lain merasa senang dan nyaman adalah salah satunya.

    Sayangnya di Jakarta tak banyak lagi orang yang mudah tersenyum. Masih mending dianggap gila, parahnya seringkali malah dicurigai. :)

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

If you want to leave a feedback to this post or to some other user´s comment, simply fill out the form below.

(required)

(required)