Berserah Pada Tuhan

Rapat panitia malam itu berbumbu tarik urat. Panitia acara reatret memang sedang gelimpangan, karena dana yang terkumpul untuk acara tersebut belum juga setengahnya. Padahal hari h tinggal 2 minggu.

Rapat jadi ajang tuding-tudingan, lempar-melempar kesalahan.

“Yang penting itu action, bukan konsep melulu. Kebanyakan ngomong ya gini ini hasilnya! Nol besar! Makan tuh konsep!”, ujar seseorang sembari mencokot tahu isi di tengah ruang rapat

“Betul, tapi tanpa konsep yang jelas, action jadi nggak efisien. Janganlah membiasakan diri bersikap pragmatis”, ucap yang lain dengan tetap santai. Namun tangannya tak henti-henti mengetuk-ngetuk meja dengan sebuah pulpen. Mungkin ia juga sedang mendidih.

Jadilah rapat malam itu berupa debat nggak penting, malah sampai bawa-bawa urusan pribadi, masalah-masalah masa lalu. Untungnya ada tahu isi, cabe rawit dan teh manis, yang kadang menjadi pengerem mulut peserta hingga tidak mbludak emosinya.

Tapi malam tak berhenti bergerak. Dan tuan rumah yang ketempatan rapat, berkali-kali menguap, bersuara besar pula. Rapat, eh salah, acara tuding-tudingan malam itupun terpaksa dihentikan.

Hebatnya, pertemuan malam itu tetap diakhiri dengan doa, tidak peduli bumbu rapat yang gontok-gontokkan Begitulah kami orang beriman.

“Ya Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu pada malam ini. Semoga apa yang kami bicarakan pada malam ini adalah sesuai dengan rencanaMu. Kami serahkan semua renca-rencana kami ke dalam kekuasaanMu. Biarlah hanya kehendakMu yang terjadi. Kiranya Engkau mau bekerja atas rencana-rencana kami. Amin”

Tepat setelah kata “amin”, seorang yang sedari tadi paling emosi berkoar lagi :

“Iya biarin saja Tuhan yang kerja. Serahin saja semua sama Tuhan. Biarin Tuhan jadi Ketua Panitia, jadi sekretaris, bendahara, kalau perlu pembantu umum sekalian. Nggak usah dibantuin !”



15 Comments »

  1. Comment by dewi

    yeyyy…. sabar bang! Usaha lage dong, ayokk masih ada waktu. Klo ada kemauan paste Tuhan kasih jalan. Percaya dehh, Dia kan baik. :)

  2. Comment by yoyok

    Bung Jo, ijinkan gue bercerita :

    Sebelum berangkat ke Cilember aku secara khusus membawa 2 botol air sebagai cadangan karena khawatir kehabisan air minum. “Ini outing dengan dhuafa, dengan ‘the have not’, sepertinya akan penuh dengan kekurangan”, pikirku. Tapi menjelang acara usai aku sempat nguping Meina LP30, koordinator konsumsi, yang lagi bingung “mau diapakan beberapa gallon air minum yang tersisa”. Aku yang tadinya takut kekurangan, jadi tersengat, menjumpai kelimpahan. Teringat aku pada lagu anak2 ‘5 roti & 2 ikan’.

    Lagu itu menggambarkan sebuah peristiwa di Injil. Di sebuah bukit di luar kota, murid2 Yesus kebingungan, bagaimana menyediakan konsumsi untuk ratusan pendengar khotbahNya. Hanya ada beberapa anak2 yang mau membagikan bekalnya, beberapa potong roti & ikan. Kata Yesus, “Bagikan saja”. Sambil terbengong-bengong para murid membagikan bekal itu dan ternyata setelah semua orang mendapatkan bagiannya, masih tersisa 5 roti dan 2 ikan. Meski oleh banyak orang peristiwa itu disebut mujizat, mujizat penggandaan roti, tapi kata guru agamaku: bukan. Dan aku kurang mengerti, “bukan?”

    Di Cilember aku juga menjumpai kelimpahan. Disamping snack & hadiah dari sponsor, ada kelimpahan tenaga. Ada 90 relawan dari berbagai institusi, yang terorganisir dengan rapi melayani 100 orang anak jalanan & dhuafa. Ada fore-raider dari sebuah club sepeda motor yang mengawal bus & truk anak2. Ada Wiko LP13 cs yang dengan tangannya sendiri memboyong & mendirikan tenda dan perlengkapan di ketinggian camping ground. Ada para “kakak” pendamping kelompok anak2. Ada pelajaran menggambar & menyanyi yang diberikan oleh sebuah institusi yang bukan amatiran. Bahkan games untuk anak2 juga disampaikan oleh sebuah lembaga training outbound professional, bukan lagi lomba standard seperti lomba jalan bareng dengan bakiak atau lomba balap karung, tetapi games yang menuntut kerjasama yang erat. Keseriusan dalam persiapan & penyampaian games itu sangat terasa

    Aku sendiri tidak tahu bagaimana prosesnya sampai semua kelimpahan itu terjadi. Aku hanya hadir di ujungnya dan terbengong-bengong menyaksikannya. Begitu banyak orang & institusi yang digerakan oleh koordinator acara ini, KKS Melati, yang dikomandani oleh Rini LP30. Tapi yang pasti mereka tidak punya dana sebegitu banyak dan juga tidak mudah menggerakan orang dan bahkan institusi lain secara begitu antusias. Aku mencoba menerka, asalnya adalah ‘ketulusan’.

    Sama seperti ketulusan anak2 dalam cerita ‘5 roti & 2 ikan’, membagikan bekalnya

    Sepertinya kali ini aku bisa berucap “eureka” (aku tahu), kenapa guruku menyebut peristiwa penggandaan roti itu ‘bukan’ mujizat, bukan sesuatu yang terjadi di luar kuasa manusia. Ya, aku jadi ingat argumentasi guruku, begini: saat ratusan tamu itu melihat ketulusan anak2 kecil itu berkorban membagikan bekalnya, mereka jadi malu dan sembunyi2 mereka mengeluarkan bekal mereka yang tadinya mereka sembunyikan, takut jika dibagikan mereka sendiri jadi kekurangan, sehingga sepertinya beberapa potong roti & ikan itu cukup untuk ratusan orang itu, bahkan masih bersisa. Ini bukan sesuatu yang terjadi di luar kuasa manusia.

    Ketulusan & pengorbanan dalam memberi, memancing ketulusan memberi, menjadikannya bola salju Cinta Kasih. Seperti kata Dindin CB1, si pengelola rumah singgah & pengajar pembuatan kertas daur ulang, saat kami berangkat bersama di truk, “Aku tidak ingat uang saat memandang wajah anak2ku (di rumah singgah itu) saat mereka tidur”. Atau kata mas Leo, koordinator kesehatan dalam acara “Ayo Kemping Bersama Anak Dhuafa Dan Anak Jalanan” itu, saat mengajari saling memijat kepada para relawan yang kelelahan, “Jangan asal-asalan menepuk, berikan yang terbaik saat kamu menyentuh tubuh temanmu”. Atau kata Dauri, seorang relawan yang punya toko buku alternatif di Bandung, saat kami sore2 sharing di warung, “Teman2ku bertanya aku dapat apa dengan ikut acara seperti ini? Jawabku: aku tak memikirkannya”.

    Diceritakan kembali dari cerita mas Henry
    orang yang gue kenal begitu tulus walau berada dikalangan the Have’s

    Sorii..gue malah ngeblog ditempat lo :p

  3. Comment by Hedi

    wah retreat gereja ya Jo…
    entah kenapa mereka yg aktif di gereja justru sering spt itu…
    selayaknya mereka bisa menunjukkan kepada orang banyak bagaimana bersikap sesuai keinginanNya, kalo begini jadi kontradiktif :(

    btw, “seorang yg dari tadi paling emosi” itu bukan elo kan? Pasti bukan…
    *kabuurr*

  4. Comment by Yenny

    kalo Tuhan dah setuju mo kerja buat reatret lo, jgn lupa sms gw yak, gw juga mo nawarin Tuhan kerja di cargo. Lumayan ngegaji 1 orang, eh orang ato Tuhan yak? semua kerjaan beres, hebatnya semua kerjaannya so pasti sesuai dengan rancanganNYA dan kehendakNYA, jadi gak usah didoain lage…hehehehe…

  5. Comment by Kalong's

    Wah, sampe bawa2 Tuhan segala… ckk ck ck ck…
    Emosi bener dia…

  6. Comment by Aji

    Let the the plan makes the path
    Then we walk all the talk
    Synergize, yet again… compromise
    Nobody is correct unless we make the act

    And God… He decide whether our deeds worth a compliment, or failure.

  7. Comment by ida

    Yakinlah “Tidak akan ada yang terjadi pada kita, yang Tuhan dan kita tidak dapat menyelesaikannya secara bersama-sama”

    btw koq emailku belum di balas? aku tunggu yah…..
    GBU

  8. Comment by restituta

    hahaha.. di tiap kelompok pasti ada yg paling berapi-api, ada juga yg diam nguap-nguap nunggu keputusan akhir.

    jadi, rapat berikutnya kapan jo? sabar… sabar…

    psst, mana tau Tuhan juga senyum-senyum melihat rapat-rapat yg meminta berkat-Nya ;))

  9. Comment by zam

    wah.. seharusnya rapat tersebut bisa jadi koreksi, dan mencari solusi, bukan ajang saling menyalahkan dan makan tahu isi..

    menurut pengalaman saya yang masih cethek ini, kalo kita ngejalani sesuatu dgn total, ikhlas, mementingkan kelompok, dan membawa dalam suasana ceria, insya Allah bakal enak jalannya..

    pengalamn Klaten Ceria kemarin misalnya. Walau yg gerak cuma 4-5 orang, tanpa ada struktur, dan mengandalkan kooridnasi dan kepercayaan, alhamdulillah bisa berjalan lancar..

    intinya memang konsep, tetapi tanpa action konsep bukan apa-apa.. begitu juga dengan action, tanpa konsep hanya buang-buang tenaga..

    :D

    oya, toleransi juga dibutuhkan apalagi ketika keadaan mendesak.. pokoke kudu pinter-pinter nyari solusi secara cepat.. :D

    weleh.. ndobos apa saya ini..

  10. Comment by vendy

    contoh berserah yang manja :lol:

  11. Comment by iks

    Paling seru kalo rapat liat orang yg saling tuding , padahal cuma rapat gitu loh kaya ngurusin negara ajah :P

  12. Comment by zsa zsa

    kalo gw jadi lu jo, pada menit ke-10 gw udah cabut dari ruangan.
    rugi bleh .. buang2 waktu ngedengerin omongan yg nggedabrus
    (ga ada juntrungannya) begitu. sebenernya tuh rapat kan diadakan
    untuk cari solusi .. lah kok malah adu gigi? :) ..

  13. Comment by Laki2 Jawa

    Berhubungan sama tuhan dianggap sama kaya ke manusia,gimana mau nyampe???.susah emang,orang yang muja pikiran,gagasan,agama,buku2 sama kitab2!!!

  14. Comment by codot

    saya hanya ingin mengungkap FAKTA! untuk menjawabnya silahkan menggunakan hati nurani dan akal anda dengan jujur!
    agama yang paling berisik (dalam arti tidak perduli terhadap kepentingan orang lain dengan menimbulkan suara2 keras; tidak terkait event/acara tertentu dan terjadi setiap hari)?
    agama yang paling merusak (dalam arti mempunyai dasar untuk melakukan perusakan dengan alasan yang dianggap benar; tidak terkait samasekali dengan masalah politik)?
    agama yang paling sombong (dalam arti mengajarkan umat untuk merasa “paling” dalam segala hal, dan menganggap rendah agama lain)?
    jika anda sudah mempunyai jawabannya, saya mempersilahkan anda kembali untuk menggunakan hati dan nurani dengan se-baik2nya untuk kemudian memberdayakan (bukan memperdaya!) akal dan pikiran anda…

  15. Comment by Tammy

    Wehehehe…
    Seru juga ya ikut kepanitian retret…
    Yah, namanya juga manusia…
    Acaranya untuk kemuliaan Tuhan, eh malah jadi ngedabrus…

    Biasa kayak gitu…
    Palingan besoknya akrab lagi, pelayanan bareng lagi, ketawa bareng
    lagi… kix3x…

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

If you want to leave a feedback to this post or to some other user´s comment, simply fill out the form below.

(required)

(required)