Anjing dalam Kereta
Menaiki KRL ekonomi, rasa-rasanya tak banyak berbeda dengan menaiki istriku. Yang satu kunaiki dua kali sehari, dan yang lain seminggu dua kali. Peluh menjadi tanda bahwa keduanya patut dipersamakan. Dan toh keduanya tak mungkin bisa dilakukan jika tidak berdesakan. Yang hebat, kalau benar cerita yang sering kudengar, adalah menggabungkan keduanya : bersetubuh dalam kereta. Semacam sex in drive-lah begitu. Mungkin rasanya seperti lidah yang diguyur setetes sari kaldu setelah sebulan penuh hanya mengunyah nasi putih.
Lihatlah kereta yang kunaiki kini. Jantungnya berdegup kencang. Rodanya menghentak-hentak, mengaba-abai laju tergesa-gesa, seakan ingin tiba di tujuan lebih pagi dari si pagi sendiri. Padahal, tubuhnya tak lagi ramping, tambun digelambiri penumpang. Di pintu, di atap, di jendela, di sambungan antar gerbong. Bersyukur (haruskah?) aku sempat menyelipkan badan. Menipis dalam kumpulan pejal orang-orang. Berjejalan dengan sesama penumpang, yang kadangkala bukan melulu berupa orang, tapi bisa jadi keranjang penuh pisang, gerobak rokok, karung-karung berisi sepatu, hingga buntelan-buntelan baju. Inilah hebatnya kereta, sanggup merobohkan sekat-sekat. Tak ada laki-laki atau perempuan, orang atau barang. Yang ada hanyalah kumpulan pejal ketergesaan. Semua berhimpitan. Bahkan harus saling berpelukan, ketika hampir di tiap stasiun pemberhentian, ratusan orang dan barang kembali dijejalkan. Kami bersetubuh. Buah dada dan batang zakar. Bermobil (banyak orang sebenarnya memiliki kendaraan, motor atau mobil, menitipkan kendaraannya di stasiun lalu berangkat ke tempat kerja menggunakan kereta) atau bergubuk. Perbedaan terpilin oleh kesamaan kepentingan : berlomba dengan waktu, melanggengkan rutinitas, meniti rel kehidupan yang akhirnya – ironis – mati-mati juga.
Makanya, aku sudah tak percaya kata orang bahwa pagi itu udaranya sejuk. Itu ilusi. Mungkin dulu memang begitu. Tapi sekarang, setelah rutin 300 pagi setahun kulewatkan dalam kereta (ah .. tak terasa sudah 15 tahun aku menggunakan jasanya dengan setia!), aku punya kesimpulan lain. Pagi itu pengap. Pagi adalah peluh.
Seperti pagi ini. Tubuhku seakan dilapisi selimut tebal yang baru terendam air mendidih. Gerah yang menyiksa. Aku memang berdiri dekat jendela. Namun jendela itupun tak bisa dibuat menganga barang sedikit, untuk membiarkan udara pagi yang masih kosong bisa menambari peluh. Sebenarnya ada jendela yang terbuka di sebelah kanannya, tapi terlanjur dinikmati dua orang bocah yang berdiri di pangkuan ibunya. Kadang ada sedikit angin dari jendela itu menggesek kulit wajahku, walau aromanya membawa bau susu basi.
Kereta berhenti di sebuah stasiun. Orang-orang kembali didesakan ke dalam kerumunan yang seakan tanpa titik jenuh. Tubuh kami sama-sama terhuyung, dengan kaki yang tak bisa lagi dipindahkan karena tak menemukan daerah terbuka untuk pijakan baru. Dan kereta memang tak berhenti lama. Bersicepat lagi dengan waktu. Mungkin puluhan lagi terangkut dan ratusan lain yang tak cergas tertinggal tanpa daya, dihibur angin yang melesat mengikuti laju kereta.
Orang-orang dalam kereta mengeluh. Sebagian merintih. Beberapa yang sanggup berpegangan pada besi membujur yang menempel pada langit-langit kereta, nampak gemetar, mengeluarkan seluruh tenaganya agar badannya tak terlempar meninggalkan kakinya. Aku sendiri merasakan sesuatu yang aneh, ketika kusadari tidak ada sentuhan kulit di punggungku. Rasa-rasanya tak seorangpun mengisi ruang di belakang tubuhku. Tak ada desakan dari sana. Tak ada hawa panas tubuh manusia. Di antara bunyi deru kereta yang bergesekan dengan rel, lamat-lamat tertangkap pula suara nafas terengah-engah, juga dari belakang tubuhku. Masya Allah! Seekor anjing berbulu abu-abu, yang nyaris penuh kurap seperti bagian karpet yang terbakar, dengan lidah menjulur keluar meneteskan liur ke salah satu kakinya, menggelesot miring, berada tepat di belakang tubuhku, di dekat kakiku. Seekor anjing betina yang tetek-teteknya berbaring di lantai kereta, panjang menyudut seperti ujung kondom yang sedang dipakai. Sesaat, mata kami – aku dan anjing itu – saling menusuk, sebelum kemudian diakhirinya dengan menguap lalu merebahkan kepalanya dengan enak ke lantai kereta.
Perutku terasa sebah menggelembung. Tubuhku gemetar menahan rasa ingin muntah yang sepertinya sudah sampai di ujung kerongkongan. Ada bau yang menyerupai, entah apa, sulit kutemukan padannya. Yang pasti, setingkat lebih sadis dari bau bangkai. Kubenamkan hidungku pada kemejaku. Tapi bau itu tak juga susut. Aroma Christian Dior yang melekat di kemejaku malah meracik bau yang semakin aneh ketika terpilin dengan bau yang pasti dari anjing kurap itu.
Beberapa perempuan nampak mengeluarkan sapu tangan atau sekedar tissue, menyumbat bau itu menusuk hidung mereka. Satu dua penumpang menarik lingkar bajunya hingga menutup hidung masing-masing. Mereka saling bertatapan, bertanya dalam diam. Menuding dengan pandangan. Menghindar dari tuduhan dengan gerak kebingungan pula. Namun, aneh, gelisah mereka hanya sebatas itu. Seakan-akan tak lebih dari sekedar bau kentut saja yang sampai di hidung mereka. Tak satupun yang merasa janggal dengan kehadiran anjing itu. Pun termasuk orang-orang yang kakinya nyaris menginjak anjing kurap itu. Sebegitu tolerankah kereta ini hingga tak seorangpun memasalahkannya? Atau memang mereka merasakan, mencium bau itu, tapi tak bisa mendapati penyebabnya, tak mengetahui kehadiran anjing itu?
Perempuan yang duduk di hadapanku, tetap tertidur dengan kelopak yang tak sepenuhnya mengatup. Nah, perempuan ini jauh lebih hebat. Sudah pasti bau itu tak mengusik mimpinya. Bahkan bibirnya yang bugil tak berlipstick kini malah ternganga-nganga, seakan sedang memberi jalan agar mimpi mengalir dengan enak. Ada bayi dalam dekapannya, yang tak lagi menggubris puting susu perempuan itu (perempuan itu ibunya?). Pulas tertidur pula hingga puting susu itu terpublikasi dengan lugas. Jujur aku sempat menikmatinya, walau sejak awal aku melihat perempuan itu, pikiranku segera mencocokkan dengan wajah seorang yang rasanya telah lama kukenal. Alis hingga mata, hidung dan bibirnya seperti intim kukenal. Siapa? Entahlah. Namun ada daya tarik lain yang memancar dari totalitas wajah perempuan itu, sebuah simponi yang belum pernah kulihat dari perempuan manapun, apalagi pada sketsa wajah yang sedikit demi sedikit telah selesai diarsir oleh benakku. Terasa aliran darahku bergerak tak beraturan. Urat-uratku gelisah. Aku, mungkin, birahi.
Suara lolongan memangkas fantasiku. Anjing itu lagi. Aku menatap matanya. Bingung. Sinis. Curiga. Iapun menatapku. Aneh. Kurasakan sebuah keteduhan dari pandangannya. Semilir angin di dalam pengap. Lalu, matanya menyayu, dan ia kembali membaringkan kepalanya ke lantai kereta dengan nyaman. Keparat! Anjing itu seakan tak rela aku mengalihkan pikiranku ke hal-hal lain di luar dirinya.
Aku kembali menjemput wajah perempuan di hadapanku. Bukan untuk meneruskan fantasiku, tapi karena ia tersontak bangun dari lelap. (ia terkejut oleh suara lolongan anjing?) Ia segera merapihkan bajunya, menyembunyikan kembali buah dadanya.
“Kok gitu sih?â€, ucap perempuan itu kepadaku. Nadanya ketus, wajahnya merah padam, lebih merah daripada hanya sekedar malu. Merahnya marah.
Kini giliranku yang ternganga, tak mengerti mengapa ia sanggup menegurku. Ia pun sudah kembali memejamkan mata, mungkin ingin meneruskan tidurnya, mungkin juga karena malu dengan orang-orang di dekatnya.
Tanpa kusadari, kereta ternyata sudah lebih lengang. Biasanya aku begitu memperhatikan tiap stasiun pemberhentian yang dilewati kereta ini, dengan tak henti-henti melirik jam tanganku. Aku selalu was-was menunggu stasiun pemberhentianku tiba. Aku selalu khawatir kereta ini akan membuatku terlambat tiba di tempat kerja. Tapi pagi ini, semua lolos dari kecemasanku. Sesuatu telah membuatku seperti tertidur saja, hingga tak terasa tiga stasiun lagi giliranku turun akan tiba.
Para penumpangpun sudah bisa berkacak pinggang. Banyak di antara mereka malah sudah mulai mengebulkan asap rokok. Beberapa orang yang tadi berdiri kini sudah kebagian duduk. Penumpang perempuan sibuk merapikan rambut, memerika kelengkapan pecantik wajahnya pada cermin-cermin lipat. Koran-koran yang tadi digunakan berkipas, mulai dibaca dalam lipatan kecil. Dan, anjing itu? Ah, iapun kini sibuk mengigit-gigit telapak kakinya, mungkin sedang berperang dengan kutu yang terselip di antara kuku. Baunya makin santer. Mungkin karena semakin sedikit yang menghirup.
Namun lewat sudut sempit mataku, dari arah depan kereta, kurasakan ada sepasang mata yang terus menggerayangi tubuhku. Sepasang mata yang mungkin menangkap gelisah dalam hatiku. Sekelabat pikiran yang ingin menukar tanya satu sama lain. Seseorang yang melihat dan merasakan apa-apa yang kurasa?
Kujemput mata itu tegas. Seorang lelaki bertopi baseball. Seperti bola bilyard yang tersodok bola lain, bola matanya terpelanting tak beraturan menatap lepas-lepas langit-langit kereta setelah bertemu dengan bola mataku. Entah mengapa ia menghindari konfrontasi tatapan denganku. Kukembalikan tatapanku pada posisi semula, sehingga wajahnya kembali hanya bisa dilihat dari sudut sempit mataku. Ah, lelaki itu lagaknya malah tak ubah seorang yang ingin mencopet. Mungkin ia memang hanya copet yang mengira aku ini gelisah karena gerak-geriknya yang mencurigakan.
Beberapa penumpang mencari ruang untuk berpindah tempat. Penumpang-penumpang yang berdiri dekat pintu merapat ke dalam, melebar memberi sedikit ruang terbuka di depan pintu. Sebagian penumpang mulai bergerak memusat ke pintu-pintu. Stasiun pemberhentian berikut rupanya sudah dekat.
“Mas, tolong gendongkan sebentarâ€, perempuan yang tadi buah dadanya diobral tiba-tiba menyapaku sembari menyodorkan bayi merah yang tadi didekapnya. Aku entah kenapa seperti terhipnotis, begitu saja menurut, menerima bayi itu. Kurasakan aku melongo dengan ekspresi tolol. Perempuan itu membuka tasnya, mengeluarkan sebuah sisir. Lalu mulai menyisir sambil menyibak rambutnya ke kiri dan ke kanan. Usai menyisir ia berdiri lalu mengambil bayi yang tadi diserahkannya.
“Nanti sore, jemputnya jangan sampai terlambat seperti kemarinâ€.
Aku tak sempat berucap sepatah katapun. Dan perempuan itupun sudah ikut dalam antrian orang-orang yang ingin turun di stasiun pemberhentian.
Secercah jawaban belum juga kutemukan, ketika kudapati sepasang mata menatapku lekat-lekat. Lelaki bertopi baseball itu lagi. Kini ia sudah tepat di depan pintu, sebagian badannya malah sudah bisa disebut menggelayut (kereta ekonomi jarang yang pintunya tertutup walau sedang berjalan). Copet siap beraksi? Namun, mengapa kini matanya terpatri menatapku? Aku sempat menoleh ke belakang, mungkin bukan aku yang ia lihat. Tapi ia malah mengangguk kecil ketika kutatap kembali. Matanya kosong, namun kuyakin bukan sedang melamun. Wajahnya buruk, kupastikan bahwa ukuran hidungnyalah yang menjadi penyebab. Namun sebuah simfoni kedamaian terangkum dalam keseluruhan wajahnya. Seketika ia membuang pandang ke luar kereta, ke arah depan kereta, lalu kembali menatapku. Ia kini, tersenyum. Damai.
Suara pluit kereta lain yang sepertinya datang dari arah berlawanan, terdengar mengencang dari kejauhan. Anjing kurap itu tiba-tiba berdiri dari tidurnya. Mendongakkan kepalanya ke depan kereta. Kupingnya tegak. Buntutnya mengibas-ngibas. Tiba-tiba, terdengar bunyi hantaman keras. Orang-orang menjerit. Menghantar bunyi pluit kereta yang menjauh. Kaca-kaca berbercak darah. Sepotong daging turun lambat-lambat membentuk jejak merah pada jendela. Bau amis dan bau muntah menyeruak. Sebuah topi baseball menamparku datang dari arah jendela.
“Gila!â€,
“Bunuh diri!â€,
Walau hanya sesaat, sempat kulihat anjing itu menguap panjang, lalu menggelesot lagi di lantai kereta dengan begitu nyaman.


Comment by Irwan
Intinya, si anjing kurap cuwex bebex ya? hehehehe
Comment by agusset
jadi anjing bulukan itu punya siapa dong? hahaha…
Comment by Yenny
kekekeke, gw pikir gw lagi baca novel yang lo janji tulis buat gw :)) suseh yee kalo orang lagi jatuh cinta, semuanya berubah…. gw kan kangen ama elo, Jo…huhuhuhuhu……
Comment by giffari
buat sendiri?
bagus tuh cerpennya.
*serius loh!*
Comment by merahitam
Tokoh aku itu siapanya perempuan itu? Suaminya? Mungkinkah tokoh aku-nya sedang dalam fase “kebingunganmengenalidirisendiri”?
Comment by Ilalang
Wah…, tulisannya keren. Tapi, saya mau tanya, topik sebenarnya dari tulisan ini apa? wanita tadi, anjing atau si baseball yang baru muncul di akhir cerita???
Comment by wadehel
Gilaaaaw, mantaaabbb.. barusan saya beneran serasa ada dalam kereta aneh itu !
Comment by titiknoda eh titik nada
ingat lagunnya ebiet “cinta di kereta biru malam”