(Cerpen) Dunia yang Tak Putih
Kalau saja hari itu datang menyergap pedih-pedih matamu, mata hatimu, ketika kau baru saja terjaga di antara gelap dan terang, pada sebuah pagi, apa yang akan kau lakukan?
Ialah sebuah pagi yang teramat senja. Pagi yang akhir bukan awal hari. Kau akan diliputi kepenuhan bahwa ada suatu purna di hadapanmu, walau pagi baru saja terjaga. Kau resah, Cinta. Resah tentang apa, kau tak pernah bisa meyakini sepenuhnya. Namun tubuhmu, kedirianmu mengatakan demikian. Pagi itu, telapak tanganmu basah, keringat yang tak terkendali, hingga bercaknya membekas pada tangkai kemudi mobilmu. Di tengah kemacetan yang meraja, kau berulang-ulang mengubah posisi dudukmu, seakan ada segunung bisul di pantatmu, di punggungmu, di sekujur tubuhmu. Kau akan setuju bahwa sesuatu telah terjadi di pagi itu. Namun apakah itu, kau hanya bisa sebatas merasa, tak pernah akan sanggup menamai. Ada rasa gatal yang menggelinjang di salah satu bagian tubuhmu, tapi dimanakah ia?
Kau menengok awal pagimu. Kau terbangun seperti biasa, pergi membersihkan tubuh dengan air hangat, menyeruput sedikit saja kopi instan pada meja makanmu, membungkus beberapa potong roti dengan sehelai tissue, lalu memulai rutinitasmu dengan kecupan kecil di kening anakmu yang masih terlelap. Hingga kemudian saat itu, saat tak ternyaman dalam hidupmu.
Semrawutnya lalu lintas pagi itu seakan sedang mengkawani ketakberaturan perasaanmu. Matamu bekerja keras mencari arah memposisikan diri. Berpindah-pindah melirik ke dalam isi kepalamu lalu cepat meloncat menerawang ke segala arah, ke tanda-tanda jalan, pada gedung-gedung. Kau mulai sadar jika saat itu kau telah tersesat. Kau salah jalan. Ini bukan jalur rutinitasmu.
Saranku : segeralah menepi. Pejamkanlah matamu. Ini saatnya kau bergerak dalam diam, terjaga dalam pikiran. Tataplah pejammu. Pagari imaji-imajimu hingga hanya apa-apa yang nyata yang hadir dalam penglihatanmu, senyata kau menatap benda-benda. Jika gelap yang kau dapat, selembar hitam kelam yang menyergap, demikian berarti kau belum beranjak. Kau masih di sana. Rasa gatal masih menggerayangi tubuhmu. Mungkin kulitmu akan membebal hingga gatal hilang begitu saja. Mungkin pula suatu kali tubuhmu akan penuh dengan luka, acapkali kau gagal menambarinya dengan garukan. Lalu kau akan kembali menyusup dalam rutinitasmu. Kau masih akan terlelap di malam hari, menjemput esok di pagi hari. Kau masih tetap bermain dengan angka-angka, merangkai rencana-rencana, mencetak apa-apa yang kau anggap ada di depan tetesan waktu. Kau teramat mencintai duniamu, Cinta.
Namun jika putih yang datang melekat - putih yang bukan warna, putih yang hadir tak bersanding dengan sesuatu yang tak putih, putih yang tak bertepi, putih kosong putih hampa, putih yang tertangkap retina bukan karena reka-reka imaji, putih yang mengiringi keringat merabai kulit-kulit wajahmu - tahanlah putihmu itu beberapa saat, hingga kau yakin jika kelak akan terjaga dalam dunia yang sepenuhnya baru. Kau mulai menemukan sumber rasa gatal di tubuhmu. Kau tiba di tepi waktumu.
Kau membuka mata, kembali mendapati segala benda memancarkan sensasi pada indera penglihatanmu. Ah, kau melengos. Dasar pembual, begitu kau menuduhku. Kau tatap sekeliling, mencari-cari sesuatu yang ganjil sesuatu yang baru. Tak ada, semua damai semua teratur, seajeg dunia yang kau tinggal sebelum memejamkan mata.
Anak-anak sekolah berseragam biru-biru berhamburan di depan pintu sekolahnya. Meninggalkan sedan-sedan warna-warni pastel ceria merah ungu orange kuning hijau yang berderet di depan gerbang sekolah, mirip pelangi yang berbanjar dengan kanvas tembok-tembok coklat muda. Halte bus dijejali manusia-manusia yang nampak bahagia dalam setelan blazer dan kemeja cerah, tak sedikit yang bermotif bunga. Agak jauh di muka, gedung-gedung tinggi sepenuhnya dari kaca, memantulkan mega kelabu yang juga bergerak mirip antrian. Matahari tersembul hanya ujung kubahnya saja.
Kemacetan masih meraja. Dan kau budaknya, masuk kembali dalam barisan, menjemput kembali rutinitasmu. Ah, Cinta, kau telah lupa mengapa tadi kau repot-repot harus menepi. Kau seperti tak sadar, jikalau tadi sempat meragukan arah. Kini, kau yakin sekali ini adalah rute perjalanan ke kantormu. Gedungnya tinggal beberapa kelokan saja.
Ponselmu berbunyi pendek. Ada SMS masuk. Jari-jari tangan kirimu mengetuk-ngetuk mekanis gagang kemudi, sedang yang kanan bermain dengan keypad ponselmu.
Selamat datang di dunia yang tak putih.
Berkacalah. Segera!
Message from : Unknown.
Pengirim tanpa identitas itu memang mengganggu pikiranmu, namun hal pertama yang kau lakukan tidak lain adalah segera membengkokan kaca spion tengah mobilmu untuk menjemput wajahmu. Kau masih sepenuhnya cantik, namun … mendung nampak di matamu. Ia tak lagi hitam di antara putih. Hitam di tengah sesuatu yang juga nyaris hitam. Putih yang terlalu kumal. Coklat yang nyaris hitam.
Tiba-tiba kaca mobilmu diketuk orang. Seorang pengemis yang wajahnya tertutup dengan uban keemasan merebahkan sebelah tangannya di hadapan wajahmu. Kau dongkol. Pengemis yang datang bukan pada waktu yang tepat. Kau refleks mengangkat tanganmu, mengibas-ngibas, membuat gerakan mengusir, seakan jendela mobilmu adalah kue tart, dan pengemis itu adalah lalat. Kau tidak rela semakin terganggu dalam kebingungan itu. Kau bahkan tak sudi meliriknya. Namun tiba-tiba kau segera menjauhi kaca, ketika lewat ekor matamu sempat terlihat pengemis itu meludah ke arahmu, walau tertahan kaca mobilmu. Kau makin terkejut, mendapati buih bening merah muda merambat pada kaca jendela mobilmu.
Dunia yang tak putih?
Kau kembali melihat wajahmu lewat spion tengah mobilmu. Memastikan. Tak mempercayai. Benar. Tak ada putih di matamu. Hanya jika diperhatikan dengan seksamalah akan nampak dua warna, sebuah titik besar hitam, berlatar semacam abu-abu.
Oh … mobilmu bergerak, padahal persneleng masih dalam keadaan kosong. Bingungmu dibuatnya buyar. Dari spion yang sama, nampak beberapa orang mendorong mobilmu. Antrian menyusut. Ada jarak senjang antara mobilmu dengan mobil di depanmu. Kau hampir meloncat ke bangku sebelah mobilmu, ketika kaca mobil tepat di sisimu duduk kembali diketuk. Seorang polisi dengan kaca mata hitam berbicara tak bersuara terkedapi oleh kaca mobil. Kau segera membuka kaca mobilmu, berbarengan dengannya yang membuka kaca mata hitamnya. Hatimu berdegup cepat. Terengah-engah. Dan benar saja. Matanya seluruhnya tak beda dengan matamu, bahkan jauh lebih hitam sepertinya.
“Selamat siang, Nona. Bisa perlihatkan SIM Anda?â€
Kau patuh, cepat mengambil kartu itu dari dalam tasmu. Diam-diam kau menaruh harap kalau polisi ini bisa menerangkan kebingunganmu.
“Kenapa kolom nama di SIM ini tidak terisi?â€
Kau menjadi lebih bingung ketika memang kau dapati SIM itu tak bernama walau jelas fotomu tertempel di sana.
“A .. aku juga tak mengertiâ€, ucapmu terbata-bata
“Baik. Silahkan Anda lapor ke Polda untuk masalah ini. Mobil anda mogok?â€
Kau menggeleng gugup, ruas lehermu terjerat bingung yang telah bertumpuk
“Kalau begitu silahkan melanjutkan perjalanan Andaâ€, tambahnya sembari kembali memasang kaca mata hitamnya dan kemudian berlalu.
Kau memang bingung dengan SIM-mu yang tak bernama, namun degup jantungmu bertambah cepat ketika tadi kau sempat melihat seberkas warna hitam dari balik bibir polisi itu. Kini, kau segera menyeringai di depan spion. Memastikan. Lagi, tak mempercayai : gigimu legam sedikit metalik, mengkilat seperti bodi mobilmu.
Kau segera keluar dari mobilmu. Mengejar polisi yang berlalu belum begitu jauh.
“Pak, dimanakah bisa saya temukan warna putih?â€
“Maksud nona?â€
“Warna putih, seperti warna …â€, ucapanmu terhenti.
Kau memutar pandang 360 derajat. Mencari-cari putih, pada bangunan, pada pakaian-pakaian, pada papan-papan reklame (Kau sempat kembali terkejut mendapati sebuah papan reklame tentang obyek wisata pantai dengan background buih ombak yang kuning gading). Kau menyergap langit. Semestinya awan nampak lucu jika keadaannya normal-normal saja, namun gumpalan awan yang lebih mirip warna-warna gulali dengan langit yang sepenuhnya jingga membuatmu tak bisa meneruskan kata. Pak polisi memiringkan kepala, menunggumu yang tampak seperti orang dungu. Kau spontan segera mencengkeram pundak polisi itu. Mengguncang-guncangnya.
“Pak, tolong kembalikan saya pada dunia saya yang dahulu!â€, air mata mengintip pada kelopak matamu.
Kau tinggalkan polisi itu dalam keadaan yang lebih dungu dari wajahmu. Kau berlari menghampiri sebuah sedan, mendapati seorang pengemudi yang sedang menghisap rokok.
“Tunjukkan pada saya, dimanakah saya bisa menjumpai putih?â€
“Maaf, aku tak pernah mengenal nama ituâ€, kata-kata itu meluncur bersamaan dengan asap rokok yang berwarna ungu seperti asap pada percobaan kimia.
Kau enggan mencerna. Panik. Lalu kau berlari menghampiri orang-orang di tepi jalan, menanyai mereka satu persatu, mencoba mencari jawab tentang apa-apa yang ganjil yang kini kau hadapi. Namun tentu saja, mereka menjadi jauh lebih bingung daripada dirimu sendiri. Tapi, kau belum putus asa, kini kau menaiki sebuah bis kota yang tubuhnya penuh digelambiri penumpang. Kau memaksa masuk, menerobos. Bingungmu tak terkendali. Hasrat yang harus terpenuhi seperti orang yang menggelepar dalam air berusaha tak tenggelam. Sementara klakson mobil berbunyi dari hampir seluruh kendaraan. Mobilmu membuat kemacetan semakin parah. Dalam keadaan yang penuh sesak, kau merayap dari pintu depan bus hingga ke belakang, sambil terus berteriak.
“Dimanakah bisa kutemukan putih?â€
Tak berjawab. Selain caci maki dari mereka yang bingung melihat tingkahmu.
Kau putus asa. Kau mulai berpikir untuk menerimanya. Kau kembali ke mobilmu. Membawa kegelisahan baru. Rasa gatal baru?
Seseorang tiba-tiba ikut masuk ke dalam mobilmu. Duduk tepat di sampingmu. Lelaki gondrong dengan bando berhias winnie the poeh.
“Baru ya di sini?â€, ucapnya sembari mengeluarkan sebuah ponsel model lama dari saku celananya.
“Aku baru saja ingin bunuh diri sebelum kau dengan kurang ajar ikut masuk dalam mobilku. Siapa kau?â€
“Kau mencari putih?â€,
Hatimu bergejolak. Setidaknya kau telah bertemu dengan putih, walau hanya dalam bentuk verbalnya saja. Lelaki gondrong itu mengucapkan putih dengan begitu jelas. Tak satupun manusia yang kau jumpai hari ini bisa menunjukkan kata itu walau hanya sebatas ucapan.
“Pejamkan matamu. Dan kau akan menjumpai putihâ€
Kau segera memejamkan mata. Ucapannya seperti sebuah perintah yang tak bisa ditolak. Sebuah hipnotis yang menggerakkan alam bawah sadarmu.
Dan kau memang menjumpai putih. Putih kosong putih hampa. Putih yang tak bertepi. Kau begitu menikmatinya. Seteguk air di tengah sahara. Kau, ekstase.
Putihmu buyar, ketika klakson mobil-mobil di belakangmu beradu kencang dan panjang menyuruhmu segera bergerak.
Lelaki gondrong itu tak lagi di sisimu. Pergi semisterius dengan kedatangannya tadi. Selembar kertas (Ah, kertas itu, begitu menarik dalam warnanya yang hijau, dengan guratan pena kuning keemasan) terbaring di pangkuanmu berisi sejumlah nomor dengan sebaris pesan :
Hubungi nomor ini, jika kau ingin segalanya kembali seperti dulu.
Dua hal segera kau lakukan : memacu mobilmu lekas-lekas sembari berusaha menghubungi nomor telepon yang ditinggalkan oleh lelaki gondrong tadi.
Dering pertama. Tak berjawab. Lalu yang kedua. Dadamu kian berdegup. Menghentak-hentak, seakan mengaba-abai kecepatan mobilmu. Dan ponselmu terjatuh sebelum dering ketiga sempat kau dengar, ketika mobilmu menabrak seseorang yang tiba-tiba menyeberang jalan.
Sebuah bando berhias winnie the poeh, mendarat pada kap mobilmu.


Comment by coni
halah halah….. lamunan panjang jadi nabrak orang…. asyik jg ceritanya
Comment by johan
ealah .. masih di edit sudah di komen .. hehehe ….
Comment by coni
heheh… boljug ceritanya bro
Comment by imago
weleh..weleh …
Comment by Aji
Jiakakaka….
Kayaknya si Jo memang senang dunia yang tragis
Comment by gogo
ada cerita yg romantis, tragedi, yah sekitar itu lah…….
Comment by imago
tuk ke 2 kalinya numpang comment…aq sekarang lg mencoba pagari “imagi-imagi” ku…aq lg “sakit” neh