Buat Apa Sekolah Kalau Jadi Bodoh!
Beberapa waktu lalu saya membaca postingan ini di blog milik Ikhsan :
When does 2 + 2 + 2 = 7?
Teacher: If I give you two rabbits and two rabbits and another two rabbits, how many rabbits have you got?
Ajeng: Seven!Teacher: No, listen carefully again. If I give you two rabbits and two rabbits and another two rabbits, how many rabbits have you got?
Ajeng: Seven!Teacher: Let’s try this another way. If I give you two apples and two apples and another two apples, how many apples have you got?
Ajeng: Six.Teacher: Good. Now if I give you two rabbits and two rabbits and another two rabbits, how many rabbits have you got?
Ajeng: Seven!Teacher: How on earth do you work out that three lots of two rabbits is seven?
Ajeng: I’ve already got one rabbit at home now!
—————————
Dan berikut adalah reka-reka saya tentang apa yang kemudian terjadi.
Ajeng hari itu dihukum. Wajib memenuhi dua halamam buku latihan matematikanya dengan tulisan : 2+2+2=6. Berulang-ulang hingga penuh ! Dan semenjak hari itu, Sang guru memiliki pandangan baru tentang diri Ajeng, bahwa Ajeng adalah salah seorang murid yang harus diberi perhatian khusus, karena memiliki masalah dalam pemahaman. Katakanlah, secara hayal, sang guru selalu melihat ada stempel “anak bodoh” di jidat Ajeng.
Sedang Ajeng kini terjerat dalam kebingungan. Ia heran, mengapa ia dihukum hanya karena ia memiliki seekor kelinci di rumah. Mungkin, semenjak saat itu ia tidak lagi menyukai kelinci. Mungkin pula satu kelinci miliknya itu akan diberikannya kepada orang lain agar cocoklah apa yang diinginkan oleh gurunya.
Mungkin juga ia mulai tak lagi berani berpikir sintagmatis – mengkaitkan berbagai peristiwa sebagai sebuah hubungan – dan mulai selalu dikotomis, bahwa apa yang diajarkan di sekolah tidak akan pernah berhubungan dengan pengalaman eksistensialnya di luar sekolah.
Bayangkan, jika Ajeng suatu kali menjalani ujian matematika yang nyaris seluruh soalnya mirip dengan kasus di atas. Berapa nilai yang harus ia terima? Apakah label yang cocok untuk Ajeng kemudian?
Jujur saja, saya sebenarnya malu terhadap Mas Ikhsan, karena kesan awal yang saya tangkap dari posting itu tak lebih dari sekedar guyonan belaka. Bahkan sebagai sebuah guyonan, kesannya murahan. Karena kalaupun lucu, kok rasa-rasanya amat dipaksakan.
Saya juga malu, karena peran yang saya ambil ketika membaca itu adalah peran sang guru. Mengabaikan keluasan cara pandang si Ajeng, mengeliminir totalitas perspektif seorang anak kecil. Saya jadi teringat buku Little Prince dimana seorang anak mati-matian (dan memang rasanya ia wajib melakukannya) membela interpretasinya atas sebuah gambar !

kebanyakan orang menebak kalau ini adalah gambar topi. Tapi anak kecil dalam kisal Little Prince punya penafsiran lain. Ini dia penafsirannya :

Matematika memang haram diinterpretasi macam-macam. Namun, dalam kasus Ajeng, bukankah kesalahan ada pada guru-sekolah-kurikulum – karena soal matematika-nya (dan hampir kebanyakan soal-soal di bidang pelajaran lain) memang memungkinkan diinterpretasikan macam itu ?
Saya malu, karena kemudian – bagi saya – ilustrasi itu sebenarnya menyiratkan problem besar pendidikan kita, dimana guru – sebagai perpanjangan tangan institusi sekolahan / kurikulum – kerap menghukum murid atas kesalahan yang sebenarnya ia buat sendiri.


Comment by Muhamad Ikhsan
Makanya Mas, perlu pebelajaran MIPA Berbasis Budaya jadi murid nggak puyeng karena harus menghapal rumus-rumus yang panjang-panjang sedangkan belum tahu gunanya untuk apa.
Comment by siwoer
sama kaya kasus bendera.
bendera berkibar di mana anak2?
angkasa!
Kan ada lagunya,..bendera berkibar di angkasa… tapi si anak salah, krn bendera berkibar di langit…
Comment by ristretto
Dan si Pangeran Kecil bersikeras bilang, itu adalah seekor gajah yang ditelan oleh seekor ular boa.
Comment by ristretto
Udah bacakah the little prince?
Comment by johan
Ikhsan, kalau menurut gue sih bukan hanya pelajaran eksak saja yang perlu dikontekstualkan
ristretto,saya sudah baca, tapi bukunya hilang dipinjam orang yang emang gue juga nggak kenal (cewek .. cakep soalnya) hehehe (saking senengnya bisa membagi kebahagiaan yang gue dapat dari baca buku itu). Nah makanya gue juga lupa kalau gambar kedua itu sebenarnya diartikan sama si pangeran sebagai gajah yang ditelen boa .. hehehe .. makasih ralatnya .. keterangan gambarnya sudah gue edit ..
Comment by Qky
Kalo menurutku, sih e’ semplice *sok tahu*
Seharusnya guru mencari tahu, kenapa 7? allora… INTERAKTIF
banyak yang bisa digali dan ditumbuh-kembangkan, semisal lewat diskusi kecil, teka-teki, atau seperti awal pertanyaan diatas.
analoginya Kalo belajar silat, mungkin bisa DITURUNKAN ilmunya. Tapi kalo SEKOLAH, permettete loro di crescere e splendete (biarkan mereka tumbuh-kembang dan bersinar, ngkali yeee *sok tahu lagi deh*
salam, grazie mille per tua comento nel mio blog
Comment by linae
Apa guru baiknya harus sekolah lagi? *j/k*
Bodo ah soal nama…yang penting ular 
Little Prince, ato disini namanya Der Kleine Prinz, aku pernah membaca buku nya dan menonton filmnya. Ular boa? baru pertama kali ini denger…apa sama dengan ular sanca? soalnya waktu ku baca itu dibilang nya, gajah yang dimakan ular sanca
Meneruskan comment dr blog ku, orang tua dibolehkan meniru apa yang dikatakan anak, dengan tujuan agar anak mau bicara, tetapi kalo dari orang tua sendiri biaca seperti itu ke anaknya, baiknya jangan, malah sepertinya menjerumuskan anak dengan bahasa yang salah, susu dengan cucu kan dah beda artinya ya…hehehe…
Comment by Tika
Tambah bingung nih, anak-anak kita sebaiknya disekolahin ato homeschooling sih??
Comment by Yenny
Waktu SMA, ujian matematika aku selesaikan dalam 7 menit. Dari no 1-100 aku lingkarin huruf A semua. Waktu hasil NEM keluar aku dapat MATEMATIKA : 38.00
Berarti ada 38 A yang benar di 100 soal. Lumayan kan daripada gw kelenger ngitung2 pake jari? Matematika apaan, bisa di JAWAB SIMPLE, HASIL AKHIR SAMA kok disuruh jabarin pake RUMUS. Ngabisin tinta,buku, ama tip ex. Belum lagi efek keriput di otak. Buktinya sampe sekarang pemerintah belum ngeluarin mata uang pecahan, semua genap; 50 rebu, 100rebu, mana ada mata uang SERATUS SEPERAPAT RIBU PER KUADRAT PANGKAT . Yeeeeeeeeeeeeeee…
Comment by agusset
kenapa gurunya berlaku seperti itu kepada ajeng? karena dulu pun ia diajar seperti itu oleh gurunya. artinya, kondisi lingkungan telah mengajarinya untuk berlaku seperti itu. si ajeng pun, pada saatnya nanti, akan berbuat yang sama dengan apa yang diajarkan oleh gurunya.
mengenai cerita little prince, terlihat unsur fantasi memang dominan di sana. dan kita semua tahu bahwa fantasi itu adalah hal yang dominan dalam dunia anak-anak, berbeda dengan dunia orang dewasa yang sudah mulai diisi dengan hal2 yang lebih realistis. dan seharusnya, sebagai guru, mereka harus tahu akan tahapan itu sehingga proses belajar mengajar masih dapat berjalan dengan baik.
Comment by vendy
wah, the Little Prince

ilustrasi anak-anak dalam tubuh dewasa
Comment by free ringtones
Marvelous. Thanks, will spread this among my friends!
Comment by trmadol
I always have terrible trouble with comment-related plugins that require me to put some line in the comment loop; I can never seem to find the right spot. Can anyone tell me where I should put the php line in my comments loop? I haven not modified anything much, and I would be very grateful. Thanks!