Kekerasan di Jepang : Antara Totto-Chan dan Shin-Chan
Jika Anda termasuk guru yang selama ini gemar memukul siswa, cobalah untuk melamar pada sebuah SD di Jepang. Mungkin nggak lama kemudian foto Anda akan menghiasi sebuah surat kabar di sana. Dengan muka yang biru lebam.
Demikianlah Jepang. Memukul siswa sudah nggak jaman, tapi siswa yang memukul guru - karena merasa menerima perlakukan yang tidak pantas - mulai jadi trend! Lebih hebat lagi, trend ini terjadi di lingkungan sekolah dasar!
Kenaikan tertinggi muncul pada kekerasan yang dilalukan terhadap guru yakni mencapai 38 persen atau sebanyak 462 kasus. Sebagian besar pelajar Jepang tidak segan memukul atau menghina para pengajarnya. Bahkan seorang siswa kelas lima nekat memukul gurunya setelah diperingatkan karena mengeluarkan kata-kata kasar.
kutipan dari Jawa Pos, 15 Sept 2006
Parlemen di sana mulai kelimpungan. Mereka merasa perlu segera mereformasi sistem pendidikan di sekolah dasar.
Saya jujur saja bingung. Sistem pendidikan Jepang katanya banyak mengadopsi model pendidikannya Toto-Chan di Tomoe Gakuen, yang amat menekankan pendidikan nilai hidup. Setidaknya itulah yang terungkap pada bagian akhir buku Toto-chan : Gadis Kecil di Jendela. Tapi mengapa fenomena di atas malah merebak? Apakah hal tersebut merupakan reaksi positif akibat pembukaan wawasan anak didik?
Mungkin juga Toto-Chan kalah populer dengan Sin-Chan. Dari jumlah cetakan buku saja pasti sudah berbanding jauh. Padahal kita belum berbicara “pertarungan” mereka pada penguasaan media tv, pembiusan lewat merchandiser dsb
Atau lebih jauh fenomena ini bisa dibaca sebagai sebuah kekalahan model pendidikan via sekolah dengan “pendidikan” ala media. Atau jika diendapkan bisa bersari pada : kekalahan sebuah sistem pendidikan bebas nilai dengan sistem pendidikan yang terbalut kepentingan ekonomis. Mbuh!


Comment by coni
ahah! kebanyakan sin chan nya daripada toto chan
Comment by irwan
Di endonesia sendiri sbnernya jg banyak kasus beginian, cuman kurang terekspos aja. Tapi mah kalo masih SD, udah kelewatan yak.
Comment by yoyok
sori komen aye ga nyambung..abis ga bisa ngeshout di shoutbox…
itu juga yang gue takutkan…
ingetin gue terus ya bung jo
Comment by Dewi
Pendidikan itu kan gaak terjadi di sekolah saja, tp di rumah dan jg lingkungan sekitar. Percuma aja di sekolah ok, tapi di luaran gak ok. Jd, nilai kehidupan itu harus diajarkan dimana aja biar balance, klo gak yah sama aja.
Btw, foto lo kok bburem Jo? Ada yg terangan? Biar jelas getoh.
Comment by amey
Jo..lu abis jadi guru SD di jepang yak
Comment by Hedi
Tapi untuk sementara, biar bagaimanapun, pendidikan jepang masih lebih baik dari kita, walaupun unsur kekerasannya jangan ditiru.
Comment by restituta
mahal nggak sih biaya pendidikan di jepun?
besar nggak sih gaji guru di jepun?
Comment by tukang nggedeblues
weleh, lha kok sangar temen? kenthir tenan.
di indonesia, biasanya murid berani memukul pengajarnya kalo udah tingkatan mahasiswa. di jepang? gila, anak sd udah berani menghajar gurunya. apa mentang2 jepang negeri asal bela diri karate ninjitsu, sehingga si anak udah mahir bela diri itu untuk menghajar gurunya yak? *kok gak ada hubungane*
Comment by aribowo
mungkin tuh murid kebanyakan nonton film kungfu
Comment by fitri mohan
iya, kaget juga sih. tapi, barangkali itu efek samping dari makin kompleksnya hidup di jepang. hingga makin banyak orang-orang frustrasi. tapi, setuju sama hedi, rasanya pendidikan di jepun masih bisa dijadikan contoh, minus kekerasannya ya.
btw, thanks ya jo.
ih, kok menegangkan sih?
moga2 masih bisa meninggalkan ruang buat bernafas, meskipun tegangnya nggak karu-karuan.
have a nice day bung!
Comment by Aji
Muksin itu pengaruh dari kekerasan dalam rumah tangga (ngaco mode on)
Comment by Hen
Dulu waktu aku masih kecil, figur guru itu begitu menakutkan hingga kita tidak berani macam2 dengan mereka. Rupanya budaya udah banyak bergeser. Skrng guru yang tidak berani macam2 dengan anak didiknya. Fenomena apa ini???
Comment by ShOFa
lom pernah baca toto chan euy *norax ya*
tp klo liyat dr komik pasti anak” sekolah di jepang ganteng” & cantik” *halahhh*
Comment by medon
Agh bos yang pasti ane bukan guru…
Comment by Anang
ah guru jaman sekarang….
Comment by josua
itu kan anak SD…kalo anak kuliahan ato SMA ??kalo gurunya di tabok sama anak kul ato sma gmn ,apakah ga mati tuh guru di tabok anak segede itu ??hahahahahah2x
Comment by josua
toto chan ?sapa siy?anak nya shin chan yah ?
Comment by cw2 UNSADA '05
di jepang emang didikannya keras, tapi liat donk hasilnya…nyaris SEMPURNA kan orang2nya…yuks kita contoh negeri sakura, tp yg baik2nya aja ya…..!!!!! =) ganbatte ne!!!
Comment by cewek sensitipe
gua turut simpati de ama gurunye meskipun ga ninggal kali ye .Tapi gua rasa tu anak dari kluarga broken home kali ya ato jangan jangan kebanyaan nonton film sinchan kali ye…
Comment by kei
bagi yang ga pernah baca Totto-Chan rugi banget.
Seru abis bukunya.Gue aja udah belasan kali baca bukunya.
mungkin siswa yang mukul gurunya belum pernah baca Totto-Chan.
Comment by aku
ya namanya jg anak kecil!!!!
artinya guru2 harus byk sabar dalam mengajar + mendidik anak. Klo utk anak SMP, SMA, Mhasiswa mah kyknya ga gitu2amat dech!!!!
Bwt para guru2 di jepang|TETAP SEMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT !!!
Comment by isni novita
hal ini janganlah kita tiru, akan tetapi yag bisa kita ambil dari jepang adalah bahwa mereka sangat yakin dengan konsep pendidikan mereka yang telah melahirkan generasi unggulan dan militan. Di Jepang konsep Quantum teaching, quantum learning, dan learning revoltion tidaklah dipakai. Mereka menganggap konsep dan metode pendidikan mereka sudah solid dan sangat cocok dengan latar belakang budaya bangsa mereka
Comment by GURU
TEMAN-TEMAN YANG TERPENTING BAGAIMANA SAAT INI KITA JUGA MULAI AMBIL “PERAN” BAIK PERAN AKTIF SEPERTI MENJADI TUTOR ATAU TRAINER MAUPUN PERAN PASIF SEPERTI YANG DILAKUKAN SI “AKU” DIATAS berilah semangat karena dengan adanya semangat tambahan mudah-mudahan guru - guru bisa lebih bijak terhadap anak didiknya tidak cepat marah ok boooooooosssssssss